(Lombok Timur, PorosLombok.com) – Lombok 1937, Di tengah suasana penjajahan yang penuh tekanan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid kembali ke tanah Lombok dengan semangat yang berkobar. Setelah menimba ilmu di Madrasah as-Shaulatiyah, Makkah, ia pulang dengan tekad untuk membangkitkan semangat pendidikan dan perlawanan di tanah airnya.
Tidak lama setelah kepulangannya, Zainuddin Muda mendirikan Pesantren al-Mujahidin. Pesantren ini menjadi tempat berkumpulnya pemuda yang mendambakan kebebasan dan ilmu pengetahuan. Dengan nama yang berarti “Para Pejuang”, pesantren ini diharapkan menjadi benteng terakhir melawan penjajahan, terinspirasi oleh semangat Syeikh Rahmatullah al-Hindi, seorang revolusioner anti-kolonialisme dari India.
Pada 22 Agustus 1937, Pesantren al-Mujahidin bertransformasi menjadi Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Pendirian madrasah ini menjawab kebutuhan mendesak akan pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman. NWDI tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pergerakan sosial yang menumbuhkan semangat cinta tanah air di kalangan generasi muda.
Madrasah NWDI segera menarik perhatian luas. Dengan pendekatan pendidikan yang inklusif dan berfokus pada pengembangan karakter, NWDI menawarkan harapan baru bagi masyarakat Lombok yang haus akan ilmu. Madrasah ini menjadi simbol kebangkitan nasional, menawarkan secercah harapan di tengah keterpurukan akibat penjajahan.
Pengaruh NWDI tidak hanya dirasakan di Pancor, tempat madrasah ini berdiri, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok Lombok. Kharisma Zainuddin muda sebagai pendiri dan pemimpin menjadikannya sosok panutan. Gelar “Tuan Guru Bajang” disematkan kepadanya, mengukuhkan posisinya sebagai tokoh yang dihormati dan diikuti.
Pengajian yang dipimpin Zainuddin Muda di Masjid Jami’ Pancor menjadi magnet bagi masyarakat sekitar. Kajian kitab-kitab klasik seperti Minhâj ath-Thâlibîn dan Tafsîr al-Jalâlain menjadi daya tarik tersendiri, memupuk kecintaan masyarakat terhadap ilmu dan agama. Setiap kata yang terucap dari Zainuddin seakan menjadi pencerahan bagi banyak orang.
Permintaan untuk mengadakan pengajian datang dari berbagai wilayah di Lombok, menunjukkan betapa masyarakat merindukan ilmu dan kebijaksanaan. Meski keterbatasan waktu membuat Zainuddin tidak dapat memenuhi semua permintaan, semangatnya tetap menginspirasi banyak orang, menumbuhkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan.
Pengakuan resmi dari Pemerintah Hindia Belanda pada 17 Agustus 1936 menjadi tonggak penting dalam perjalanan NWDI. Pengakuan ini memberikan legitimasi bagi Zainuddin untuk mengembangkan madrasah lebih jauh, menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang kelak akan dikenang.
Hingga tahun 1949, NWDI berhasil memperluas jaringan pendidikannya dengan mendirikan cabang-cabang di berbagai wilayah. Madrasah ini melahirkan generasi penerus yang berperan aktif dalam dakwah dan pendidikan di Lombok, memperkuat jaringan pendidikan Islam di daerah tersebut.
Dengan fondasi yang kuat dan semangat yang tak pernah padam, NWDI terus berkembang menghadapi berbagai tantangan dengan keberanian dan keteguhan hati. Zainuddin, dengan integritas dan visi yang jauh ke depan, memastikan bahwa madrasah ini tetap menjadi pilar penting dalam pembangunan bangsa.
Kisah berdirinya Madrasah NWDI adalah kisah tentang keberanian, visi, dan dedikasi tanpa henti demi kemajuan bangsa. Warisan semangat ini terus hidup dan menginspirasi generasi muda hingga hari ini, menjadi cahaya penerang bagi masa depan yang lebih baik.
Madrasah NWDI, sejak awal berdirinya, berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada agama tetapi juga membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum yang diterapkan mencakup berbagai mata pelajaran, dari ilmu agama hingga pengetahuan umum, menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan modern. Hal ini menjadikan NWDI sebagai pelopor dalam inovasi pendidikan di Lombok.
Pentingnya NWDI dalam membentuk karakter dan intelektualitas masyarakat Lombok tak bisa dipungkiri. Madrasah ini menjadi pelabuhan bagi banyak orang tua yang menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Dalam lingkungan yang kondusif dan penuh dedikasi, siswa-siswa NWDI tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga nilai-nilai moral yang kuat, yang menjadi fondasi bagi pembangunan masyarakat yang lebih baik.
Keberhasilan NWDI menginspirasi banyak lembaga pendidikan lainnya di Indonesia. Dengan model pendidikan yang inklusif dan komprehensif, madrasah ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci untuk kebangkitan sebuah bangsa. Saat ini, NWDI terus berupaya menghadirkan program-program baru yang inovatif, memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan pendidikan yang tidak hanya memenuhi standar nasional tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin masa depan.
(Arul/porosLombok)
Sumber : NWDI.or.id dan dari berbagai sumber















