“Ia tidak memilih pergi, tapi diminta meninggalkan jabatan. Justru dari situ, ia menemukan panggilan hidupnya yang paling jernih”
–––––––––––––––––––––––––––
Lombok Timur, PorosLombok.com – Tahun 2024, sebuah keputusan administratif dari pemerintah provinsi NTB membuat Muhammad Khairul Ikhwan harus meninggalkan jabatannya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ia dimutasi menjadi guru SMK.
Dalam logika karier birokrat, itu penurunan drastis. Tapi Ikhwan tak melawan. Ia tidak menggugat, tidak memohon lobi. Ia pergi, lalu kembali ke tempat yang selama ini diam-diam ia bangun: sebuah sekolah kecil di pinggiran kota bernama SMK Ondak Jaya.
Sekolah itu berdiri di bawah Yayasan Pendidikan Al Ikhwan, yang sudah ia rintis sejak 2016. Tak banyak yang tahu, karena memang tak ada yang gemerlap di sana. Tak ada plang besar, tak ada fasilitas mewah.
Tapi di situlah puluhan anak yatim dan keluarga tak mampu menggantungkan harapan. “Mereka datang bukan untuk sekolah. Mereka datang karena tak punya jalan lain,” kata Ikhwan.
SMK Ondak Jaya lahir dari kegelisahan: pendidikan terlalu mahal dan teknis untuk mereka yang hidup di pinggir. Sekolah-sekolah negeri kejuruan butuh modal besar, peralatan mahal, dan hanya bisa diakses mereka yang mampu. Di Ondak Jaya, Ikhwan membalik logika itu. Ia membuat sekolah permesinan berbasis industri bagi mereka yang tak punya apa-apa.
Anak-anak di sana bukan hanya menghafal teori. Mereka belajar mengelas, membubut, merakit mesin, membuat desain berbasis komputer, hingga mengoperasikan mesin CNC dan laser engraver. Mereka bekerja dengan tangan, bukan pena. “Kami ingin mereka bisa bekerja sebelum mereka lulus,” ujarnya.
Fasilitas praktik cukup lengkap: dari peralatan hidrolik, mesin rol, hingga perkakas tangan modern. Tapi ruang kelas? Atapnya bocor, kursinya lapuk. Tak ada AC, tak ada infokus. Tapi tak ada keluhan. “Sekolah ini bukan tempat nyaman. Ini tempat bangkit,” kata seorang siswa.
Karena bantuan operasional pemerintah tak cukup, Ikhwan memutar otak. Operasional ditopang dari unit bengkel sekolah, yang membuka jasa teknik ringan untuk masyarakat. SMK Ondak Jaya pun menjadi satu-satunya SMK swasta di NTB yang berani membuka jurusan Teknik Permesinan. Biayanya mahal, tapi potensinya tinggi. “Semua industri butuh mesin. Siapa yang bisa menguasai mesin, bisa bertahan hidup di mana pun,” ujar Ikhwan.
Ia tak sekadar mendesain kurikulum. Ia mendampingi langsung para siswa saat praktik. Ia ikut mengelas, ikut membetulkan mesin rusak. Kepada guru-gurunya, ia berpesan: jangan sekadar mengajar. “Tugas kita bukan menyelesaikan silabus, tapi menyelamatkan anak-anak ini dari lingkaran kemiskinan,” katanya.
Sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang kehilangan pencari nafkah. Banyak di antara mereka nyaris putus sekolah. Beberapa tidur di tempat penampungan yayasan. Tapi mereka gigih. Sebab di sekolah ini, mereka bukan hanya mengejar nilai, tapi mengejar hidup.
Sekolah kecil ini mulai dikenal pelaku industri kecil di Lombok dan Sumbawa. Bahkan ada yang sudah menerima alumni Ondak Jaya untuk magang di luar negeri. Tapi Ikhwan menolak menjadikannya mesin produksi buruh murah. Ia ingin murid-muridnya tumbuh sebagai manusia merdeka.
Tak ada poster dirinya di dinding sekolah. Ia menolak jadi tokoh yang dikultuskan. Tak ada unggahan viral di media sosial. “Kalau terlalu banyak kamera, kita bisa kehilangan alasan kenapa dulu memulainya,” ucapnya lirih.
Apakah ia menyesal dimutasi dari jabatan prestisius itu? Ikhwan menggeleng. “Dulu saya mengurus sistem. Sekarang saya mengurus manusia,” katanya. “Dan saya merasa lebih hidup.”
Di mata anak-anak yatim itu, Ikhwan bukan sekadar guru atau pendiri yayasan. Ia adalah harapan yang berjalan di antara mereka. Bukti bahwa di tengah birokrasi yang dingin dan formal, masih ada satu dua orang yang memilih berdiri di barisan paling belakang—bersama mereka yang tak punya siapa-siapa.
(arul/PorosLombok)
















