PorosLombok.com – Sinta Agathia M. Iqbal resmi mengemban amanah sebagai Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Provinsi Nusa Tenggara Barat masa bakti 2026–2031 guna memperkuat basis pencegahan penyakit mematikan di wilayah ini.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, yang terhubung secara daring dengan pusat di Jakarta. Momentum ini menandai dimulainya babak baru penguatan sinergi penanggulangan kanker di daerah.
“Isu kanker adalah persoalan besar yang tidak bisa kita serahkan hanya kepada tenaga kesehatan,” ujar Ketua Sinta Agathia, Jumat (17/4/2026).
Istri Gubernur NTB ini menegaskan bahwa penanganan kanker membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh lapisan elemen masyarakat tanpa terkecuali. Dirinya memandang kolaborasi kolektif sebagai kekuatan utama dalam menghadapi ancaman kesehatan tersebut.
Sinta Agathia berencana menggenjot program edukasi masif guna mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih sehat dan berkualitas. Langkah preventif ini mencakup kampanye kesadaran terhadap pentingnya melakukan deteksi dini secara berkala.
Ketua Umum YKI Pusat Prof. Aru Wisaksono Sudoyo mendorong transformasi organisasi agar lebih profesional dan adaptif terhadap regulasi terbaru. Hal ini mencakup aspek tata kelola hukum serta kepatuhan terhadap sistem perpajakan nasional yang berlaku.
“Transformasi ini bukan sekedar formalitas, tetapi menyangkut perubahan cara kerja dan tata kelola organisasi,” jelasnya.
Profesor Aru menambahkan bahwa koordinasi antara pusat dan daerah kini menggunakan standar nasional yang lebih terukur namun tetap fleksibel. Ruang kreativitas tetap terbuka bagi pengurus daerah untuk menyesuaikan program dengan kearifan lokal masing-masing.
Peningkatan Akuntabilitas Organisasi dan Prioritas Deteksi Dini Nasional
Fokus utama organisasi ke depan adalah menjaga kepercayaan publik melalui transparansi pengelolaan dana maupun kegiatan secara menyeluruh. Akuntabilitas menjadi harga mati bagi pengurus baru dalam menjalankan roda yayasan selama lima tahun ke depan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sekitar 90 persen kasus kanker di Indonesia dipicu oleh faktor risiko gaya hidup serta kondisi lingkungan. Data ini menjadi alarm keras bagi pengurus untuk segera merumuskan langkah perlindungan masyarakat.
“Penurunan angka kanker tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi pada pencegahan yang dilakukan secara masif,” tegasnya.
Pimpinan pusat meminta penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menekan angka kasus melalui pola hidup bersih. Kesadaran mandiri warga menjadi kunci sukses utama dalam memutus rantai penyebaran sel kanker di Indonesia.
Acara pelantikan tersebut dirangkaikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun ke-49 Yayasan Kanker Indonesia sebagai ajang refleksi nasional. Usia matang organisasi diharapkan mampu memberikan dampak nyata yang lebih luas bagi keselamatan jiwa rakyat.
YKI NTB kini memikul tanggung jawab besar untuk memperluas jangkauan edukasi hingga ke pelosok desa di seluruh kabupaten dan kota. Gerakan terstruktur sangat diperlukan agar masyarakat memiliki benteng pertahanan kesehatan yang lebih solid dan mandiri.
“Ke depan kita akan membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menghadapi ancaman kanker secara lebih berkelanjutan,” pungkasnya.*















