Karakter itu rupanya sudah tertanam dalam jiwa sang karikatur rembulan. Frase itu rasanya tak berlebihan, karena sosok kak ofik selalu memberi jalan terang bagi setiap jiwa tak bertuan, dalam konteks roda pemerintahan. Mungkin saja sebagian orang akan menganggapnya berlebihan, tetapi setiap orang punya pandangan sebagai dasar untuk diungkapkan.
Seperti biasanya, dugaan saya, malam itu hati sang sekda sedang bergembira ria, gambaran itu terlihat dari emoticon balasan Pesan yang ia kirim, namun itu masih dugaan saya saja. Akan tetapi sayapun tetap mencoba untuk ngobrol seputar kegiatannya di bulan Ramadhan ini.
“Apa saja kegiatannya selama bulan ramadhan ini kak ofik?” Begitu kalimat tanya yang saya layangkan. Selang beberapa saat balasannyapun datang, “Ya dik saya masih bersama ibunya di rumah,” balasnya dalam pesan singkatnya.
Obrolan kamipun berlangsung cair dan mengalir, mulai dari soal profesinya sebagai pelayan masyarakat hingga memasuki ruang-ruang privat. “Di tahun 1443 Hijriah ini kita harus menyempurnakan amalan Ramadhan” begitu ia berucap.
Namun seperti biasa, dengan nada setengah bercanda ia tak pernah lupa menyelipkan kalimat pujian untuk sang permaisurinya Hj.Nurul Hidayati. Tak hanya pada perkara besar semata, hal-hal yang mungkin dianggap sepele sekalipun tak luput dari perhatian sang sekda.
Tetapi mungkin saja menurutnya menjadi sesuatu yang luar biasa. Misalnya saja soal menu makanan saat berbuka puasa, ” Kolak buatan ibu dirumah tak ada yang mengalahkan,” ucapnya, kali ini dengan nada serius.

















