(PorosLombok.com) – Lombok Timur tak ingin hanya dikenal lewat porang. Setelah sukses meresmikan pabrik porang di Pringgabaya yang digadang mampu menampung puluhan ton hasil panen petani, kini daerah ini juga serius membidik posisi sebagai pusat pengembangan rumput laut tropis kelas dunia.
Langkah baru itu menguat setelah Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menerima audiensi Universitas Mataram (Unram) di ruang rapat bupati, Selasa (2/9).
Pertemuan tersebut membahas rencana besar pembangunan laboratorium riset rumput laut di kawasan pesisir.
Rektor Unram Bambang Hari Kusumo menilai Lotim punya potensi strategis untuk jadi sentra pengembangan bibit unggul.
“Masalah utamanya ada di bibit. Kalau ada lab di sini, bisa jadi solusi skala nasional,” katanya.

Unram pun mengajukan lahan 20–30 are untuk pembangunan laboratorium. Bupati Lotim langsung menyambut positif. Menurutnya, ini kesempatan emas yang harus diambil. Bahkan, lahan rest area di Ekas ditawarkan untuk dialihfungsikan menjadi lokasi lab.
“Kalau sudah berjalan, kita libatkan BUMD untuk ikut mengembangkan. Soal lahan kita upayakan,” tegas pria yang akrab disapa H.Iron itu.
Ia juga menginstruksikan OPD terkait agar mempercepat proses perizinan. Harapannya, Lotim tak hanya dikenal sebagai lumbung porang dengan pabrik modernnya, tapi juga markas besar rumput laut tropis dunia.
Audiensi strategis ini dihadiri Sekda Lotim, rombongan Unram, Asisten Setda Bidang Ekonomi, Kabag Hukum, hingga sejumlah kepala OPD.
Sebagai Informasi mengenai pengembangan komoditas porang di Lombok Timur menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong sektor pertanian bernilai ekonomi tinggi.
Hal ini ditandai dengan peresmian Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Porang pada Kamis (14/8/2025). Kehadiran sentra tersebut diproyeksikan menjadi motor penggerak ketahanan pangan sekaligus penguat perekonomian daerah.
Sentra IKM porang di Lombok Timur tercatat sebagai yang pertama dan terbesar di Nusa Tenggara Barat, dengan kapasitas produksi harian mencapai 50 hingga 80 ton.
Potensi ekonomi porang sangat menjanjikan, mengingat harga jualnya yang tinggi dan bobot umbi yang besar, sehingga mampu memberikan penghasilan signifikan bagi petani.
Agar ketersediaan bahan baku tetap terjaga, pemerintah daerah berupaya melibatkan kelompok tani serta menggandeng akademisi untuk memastikan kesinambungan produksi.
Langkah koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah pusat, terutama untuk pemenuhan kebutuhan bibit porang. Umbi berukuran kecil dapat ditanam kembali dengan masa panen sekitar 8 hingga 9 bulan, sehingga rantai produksi tetap berkelanjutan.
Dengan adanya sentra pengolahan ini, Pemkab Lombok Timur menargetkan terwujudnya kesejahteraan petani sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal secara merata.
(arul/PorosLombok)














