Tembok Miring, Guru dan Murid SDN 2 Jurit Belajar dalam Ancaman

Lombok Timur, PorosLombok.com – Di sebuah pagi yang sejuk di Desa Jurit, Kecamatan Pringgasela, suara tawa anak-anak SDN 2 Jurit terdengar riuh. Namun di balik semangat mereka menimba ilmu, tersimpan kekhawatiran yang tak ringan: sekolah tempat mereka belajar nyaris roboh.

Langit-langit kelas sudah runtuh sebagian, tembok bergeser dan condong keluar. Tak ingin mengambil risiko, Kepala Sekolah Lalu Suparlan bersama guru-guru terpaksa memasang bambu sebagai penyangga darurat. “Langsung kami sekat, carikan bambu, agar jangan sampai anak-anak jadi korban,” ujar Suparlan dengan suara berat. Kamis (17/04).

Ia menyebut laporan kondisi bangunan sudah dikirimkan ke pihak berwenang sejak tahun 2016. Namun hingga kini belum ada perbaikan menyeluruh. “Sebelum gempa sudah rusak, setelah gempa makin parah. Kami hanya diberi terpal delapan lembar. Anak-anak belajar di luar,” katanya.

Kini, dengan kondisi yang belum berubah, aktivitas belajar terpaksa dipaksakan kembali ke dalam ruang kelas yang tersisa. Dari 12 rombongan belajar, hanya tiga ruang yang dianggap cukup aman digunakan. Sisanya? Dikonversi dari mushala, area parkir, dan perpustakaan.

“Kami belikan meja dan bangku sendiri. Tapi tetap tidak cukup. Jadi ada yang masuk pagi, ada yang masuk siang,” tutur Suparlan.

Ia mengisahkan, sejak mulai menjabat pada 2012, kondisi bangunan sekolah sudah memprihatinkan. “Sudah parah. Saya coba perbaiki sedikit-sedikit, tapi tukang pun enggan naik karena kayunya lapuk,” ucapnya.

Struktur bangunan sekolah memang menyedihkan. Dibangun tanpa cakar ayam, tanpa besi, hanya campuran kapur. Tak heran, bagian selatan bangunan mulai miring dan mengancam keselamatan.

“Sekolah ini sudah semestinya direnovasi total. Kami khawatir, apalagi jumlah siswa terus bertambah,” katanya. Kini, SDN 2 Jurit menampung 350 siswa, jauh meningkat dibandingkan saat ia pertama kali datang, yang hanya 283 orang.

Untuk mengimbangi lonjakan siswa, sekolah memperbanyak aktivitas pra-belajar seperti senam dan kegiatan literasi. Namun semua usaha itu seolah tak berarti jika gedung tempat anak-anak menimba ilmu tetap dalam bayang-bayang reruntuhan.

“Langit-langit jatuh, ruang guru kami sangga kayu. Karena tak layak, guru terpaksa kami tempatkan di ruang kelas. Kami hanya ingin ada tindakan nyata dari pemerintah. Kami ingin anak-anak belajar dengan tenang,” ujarnya pelan.

Ancaman itu nyata. Setiap hari guru dan murid SDN 2 Jurit belajar dengan cemas, di antara dinding miring dan kayu lapuk yang siap runtuh kapan saja. Mereka hanya berharap: ada tangan pemerintah yang segera turun tangan.

(arul | PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU