Zurriyatun, Pedagang Dadakan Rasakan Keberkahan Hultah NWDI Ke-87 di Pancor

POROSLOMBOK.COM, LOTIM –

(Minggu | 18 September 2022 | 10.25 Wita)

Tangan Zurriyatun Toyyibah wanita (26) Tahun begitu telaten menyajikan kopi hangat untuk para pembelinya, pada acara Hultah NWDI siang itu, Zur merupakan salah satu mahasiswa IAI Hamzanwadi, dan juga anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HIMMAH) NWDI.

Dari sekian banyak para pedagang kecil yang berjejer menjajakan dagangannya, Zurriyatun adalah salah satu nama pedagang kaki lima yang ikut berdagang di sekitar arena HULTAH NWDI Ke-87.

“Kami jualan sejak malam Hultah, kalau boleh dibilang jualan dadakan,” ucap Zur sambil tersipuh malu.

Dengan modal awal hanya satu juta Rupiah, bersumber dari kas Organisasi, sehingga banyak sekali kekurangan terutama peralatan, bahkan barang-barang yang dijualpun seadanya, walaupun demikian, Zur bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan, jika dihitung dari malam sampai dengan hari puncak Hultah NWDI kurang lebih 20 Persen dari modal awal.

“kalau dirupiahkan omzet saya sekitar Tiga ratus sampai 400 ribu Rupiah,” ungkap Zur

Zur tampak begitu gembira di Hultah NWDI tahun ini, karena dirinya tidak menyangka kalau jualan dadakannya bisa mendapatkan omzet, walaupun jumlahnya tidak seberapa, setidaknya, dari usaha ini bisa bermanfaat untuk kegiatan organisasi, Karena keuntungan dari jualan ini akan masuk kesana.

“Kebetulan di Himmah ini kami hanya cabang, bukan komisariat, sehingga nanti ketika ada kegiatan tentunya cabang yang akan diminta untuk mengakomodir kebutuhan teman-teman,” jelas Zur sambil melayani beberapa pembelinya.

Menu yang disajikan di lapak dadakan Zur hanya dua macam yakni, kopi dan Mie rebus, namun tetap diminati oleh para pengunjung Hultah, harganyapun tidak terlalu mahal hanya berkisar lima ribu Rupiah sampai dengan tujuh ribu Rupiah.

“Kedepannya kita akan tingkatkan lagi usaha ini, mengingat, lapak tempat usaha jualan ini sudah diserahkan penuh kepada organisasi,” jelasnya.

Hultah NWDI tahun ini merupakan keberkahan buat Zur dan sekian banyak pedagang kaki lima, meski ditengah kekurangan namun mampu meraup omzet yang lumayan, hal ini mungkin berkat keberkahan Almaghfurlah, dan tanah Pancor yang merupakan tonggak awal lahirnya Madrasah NWDI

Sejarah Madrasah NWDI

Pada ahun 1934 sepulang Muhammad Zainuddin muda dari Tanah Suci Makkah menyelesaikan Studinya di Madrasah as-Shaulatiyyah langsung mendirikan pesantren al-Mujahidin. Penamaan Pesantren al-Mujahidin yang berarti “Para Pejuang” ini bukan tidak disengaja, tetapi sebagai bentuk manifestasi Muhammad Zainuddin sebagai intelektual muda terdidik, melihat kondisi bangsanya.

Nama pesantren ini juga sama dengan nama kelompok perjuangan yang dipimpin Pendiri Madrasah al-Shaulatiyah, Syeikh Rahmatullah al-Hindi. Sebelum bermukim di Mekkah, Syeikh Rahmatullah merupakan seorang revolusioner penentang penjajahan Inggris di India. Nafas dan semangat perjuangan Syeikh Rahmatullah ini menjadi inspirasi bagi Zainuddin muda melihat kondisi bangsanya yang juga sedang terjajah dan terbelakang.

Pesantren al-Mujahidin yang didedikasikan untuk menggembleng anak muda untuk melawan penjajah selanjutnya berkembang menjadi Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang berarti gerakan kebangsaan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 Hijriah/22 Agustus 1937 Masehi dan 6 tahun kemudian Muhammad Zainuddin muda mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang berarti gerakan kaum perempuan pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 Hijriah/21 April 1943 Masehi di Pancor Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.

Muhammad Zainuddin muda cepat mendapatkan pengaruh di masyarakat, dengan kemampuan dan moralitas yang ditunjukkan. Masyarakat Pancor mempercayaikannya sebagai imam dan khatib shalat Jumat di Masjid Jami’ Pancor. Figur anak muda ‘alim yang memiliki integritas, keilmuan, serta perjuangan yang dilakukan, masyarakat menyandangkan gelar dengan sebutan “Tuan Guru Bajang” atau Tuan Guru Muda”, yang pada akhirnya seiring perjalanan waktu, beliau dipanggil dengan sebutan Maulanasyeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

(Arul/ Poroslombok)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU