Najmul Akhyar Buka Musrenbang Kebudayaan KLU, Perkuat Jati Diri Bangsa

Bupati Najmul Akhyar buka Musrenbang Kebudayaan 2026 di Kayangan guna susun PPKD dan memperkuat jati diri daerah melalui sinergi tokoh adat serta regulasi cagar budaya.

PorosLombok.com – Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar resmi membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) khusus bidang kebudayaan tahun 2026 di Camping Beraringan, Kecamatan Kayangan, Kamis (26/2).

​Langkah strategis ini mengusung tema Membangun Identitas Daerah, Memperkuat Jati Diri Bangsa sebagai respons atas arus modernisasi. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga nilai luhur tetap eksis di tengah perubahan zaman.

​Ketua DPRD KLU Agus Jasmani bersama jajaran OPD turut hadir memberikan dukungan penuh terhadap agenda tahunan tersebut. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mempertegas sinergitas kuat dalam merumuskan arah kebijakan lokal.

​Kepala Dikbudpora KLU Muhammad Najib melaporkan bahwa kegiatan tersebut berlandaskan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Regulasi ini menjadi payung hukum utama dalam upaya perlindungan aset daerah.

​”Forum ini juga merujuk pada Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2024 terkait tata cara pelestarian budaya daerah,” jelas Muhammad Najib, S.Pd., M.Pd. usai pembukaan acara.

​Sebanyak 125 peserta dari unsur akademisi, seniman, hingga aktivis LSM terlibat aktif dalam diskusi intensif. Mereka membedah rancangan dokumen Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) untuk proyeksi pembangunan tahun 2027.

​Seluruh rekomendasi hasil musyawarah nantinya akan diintegrasikan secara sistematis ke dalam dokumen perencanaan resmi kabupaten. Selain itu, pertemuan ini menetapkan delegasi khusus guna mengawal aspirasi pada level pemerintahan yang lebih tinggi.

​Bupati Najmul Akhyar dalam pidatonya menyebutkan bahwa tidak semua daerah memiliki inisiatif menggelar Musrenbang spesifik sektor kebudayaan. Hal tersebut menempatkan Lombok Utara sebagai wilayah yang sangat menghargai warisan nenek moyang.

​”Kami mengawali proses ini melalui Gendurasa atau ruang dialog terbuka guna menyerap kegelisahan tokoh adat sebelum masuk meja birokrasi,” katanya.

​Menurutnya, momentum ini sangat krusial untuk mentransformasikan gagasan menjadi program kerja nyata yang menyentuh masyarakat. Pemerintah terus berupaya memasukkan substansi tradisi ke dalam aturan formal agar memiliki kepastian hukum.

​Najmul menekankan bahwa menjaga adat istiadat merupakan cara terbaik mempertahankan karakteristik unik masyarakat Dayan Gunung. Ia berharap seluruh peserta mampu melahirkan ide visioner demi kemajuan peradaban di masa depan.

​”Mari kita pelihara kekayaan lokal ini sebagai kekuatan utama jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU