PorosLombok.com – Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, resmi menutup Bimbingan Manasik Haji Gratis bagi Jamaah Calon Haji (JCH) di Halaman Kantor Wali Kota Mataram pada Minggu (5/4/2026).
Kegiatan edukatif ini menjadi bekal terakhir bagi para tamu Allah sebelum bertolak ke Tanah Suci. Pemerintah daerah memastikan seluruh jemaah telah memahami tata cara ibadah sesuai syariat guna mengejar predikat haji mabrur.
“Para calon jemaah haji adalah duyufurrahman, atau tamu Allah SWT, jalani rangkaian ibadah dengan penuh kesabaran,” ujar Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman.
Selaras dengan hal itu, Mujiburrahman menekankan pentingnya ketulusan niat semata-mata karena sang pencipta. Ia mengingatkan bahwa kesempurnaan rukun Islam kelima ini sangat bergantung pada kemurnian hati masing-masing individu.
“Sampaikanlah dengan baik kalau ada hal-hal yang ingin dikomplain, tetapi jika bisa diterima lapang dada itu lebih baik,” katanya.
Lebih lanjut, politisi sekaligus tokoh agama ini meminta jemaah bijak menyikapi fasilitas penginapan maupun pelayanan di lapangan. Kesabaran menjadi kunci utama saat menghadapi situasi yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi awal.
Pentingnya Menjaga Adab dan Hubungan Sosial Selama Ibadah Haji
Pemerintah Kota Mataram menegaskan bahwa predikat haji mabrur tidak hanya bersumber dari ketepatan gerakan manasik. Kualitas interaksi antarmanusia di tengah jutaan orang dari berbagai belahan dunia menjadi ujian yang sesungguhnya.
“Jangan hanya fokus pada pelaksanaan manasik yang benar, tetapi interaksi sosial tidak terjaga selama di sana,” pesannya.
TGH Mujiburrahman menyoroti potensi gesekan antarjemaah yang seringkali muncul akibat kelelahan fisik. Beliau melarang keras adanya aksi saling menuding atau menyalahkan yang justru merusak pahala ibadah yang sedang dijalankan.
Kematangan emosional jemaah asal Kota Mataram diharapkan menjadi cerminan karakter warga yang religius dan santun. Menjaga lisan tetap bersih dari ucapan buruk merupakan bagian dari upaya menjaga kesucian tanah haram.
“Jangan sampai masih ada saling menyalahkan atau hal-hal yang justru mengurangi keikhlasan dalam beribadah,” pungkasnya.*















