Musisi Kecimol dan Segelumit Pertentangan

Oleh Uncle Kus- pemerhati seni budaya dan pariwisata

OPINI, Poroslombok.com | -Bagi sebagian orang musik adalah segalanya.tanpa musik hidupnya terasa sepi dan kurang asyik. Soal selera tentu berbeda beda seperti halnya ketika memilih menu makanan . Ada yang suka pedes ,ada yang suka manis,ada yang doyan musik pop, rock, reggae atau punk.

Di Indonesia perkembangan seni musik terus mengalami kemajuan dari masa ke masa. Panggung & peralatan musik serta karya karya musisi dari segala genre musik makin menunjukkan kwalitasnya baik yang ada di kota sampai di pelosok desa.
Sebut saja Lombok dengan musik Kecimol nya.

Genre musik adalah simbol karakteristik dari pengagumnya. Kelas dan kasta nya pun beragam . Ada genre musik kelas atas yang penontonnya datang dari kalangan pengusaha dan pejabat tinggi dan adapula genre musik yang peminat nya berasal dari kalangan menengah kebawah. Sudah pasti harga tiket konsernya pun beragam mulai dari angka ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Sebaliknya ada juga genre musik yang penikmatnya datang dari masyarakat kelas menengah kebawah sebut saja Dangdut.
Di Lombok ada Kecimol yg sengaja didesain agar dapat dimainkan sambil berjalan saat mengiringi rombongan iring iringan sebuah pesta perkawinan ( read: nyongkolan ).

Menurut Uncle Kus selaku pemerhati dan pecinta seni dan pariwisata,Kecimol disamping sebuah profesi seni juga merupakan simbol dan karakteristik anak muda sasak yang sedang mencari jati dirinya ditengah makin sulitnya peluang kerja.

Situasi dan kondisi yang serba sulit itu kemudian dilampiaskan dengan cara menikmati musik jalanan dengan tarian dan joget sesuka hatinya. Luapan emosional yang ditunjukkan dengan aksi joget adalah cara mereka menyampaikan kondisi bathin dan kondisi kehidupan yang makin sulit.

Bisa saja mereka adalah gerombolan sad boy dan sad girl atau rombongan putus sekolah yang sedang galau dan dalam situasi broken home.

Berbeda dengan para aktivis yang meluapkan kritik dan keinginan lewat orasi politik yang juga sedang galau dengan situasi yang serba sulit. Apa yang mereka sampaikan lewat performa musik dan lagu yang dibawakan dengan soundsystem ribuan watt dan atraksi joget ditengah jalan adalah bentuk aksi dan luapan emosional atas kondisi yang tdk baik baik saja .

Musik mereka adalah simbol dan gambaran suasana bathin dan kehidupan yang semakin tidak menentu akhir-akhir ini.

Fenomena Kecimol yang terus berkembang dan tak terhentikan kini bahkan semakin digemari oleh masyarakat pedesaan dan perkotaan sebagai salah satu sarana hiburan gratis.

Setiap orang ingin senang tapi tak semua orang mampu membeli tiket konser konser musik artis papan atas. Beruntung ada Artis Kecimol yang justeru datang ke pelosok pelosok tanpa membutuhkan panggung mewah dan tiket mahal.

Disisi lain fenomena musik Kecimol inipun tak jarang menuai kritik dan bahkan perlawanan dari para tokoh masyarakat yang merasa terusik dengan penampilan mereka yang kerap memicu keributan.Sebut saja dibeberapa desa di Lombok Timur yang sudah menerbitkan peraturan desa dan awik awik berisi pelarangan menggunakan Kecimol pada acara adat nyongkolan seperti di Lendang Nangka, Kembang Kuning, Jeruk Manis, Tetebatu dan Tetebatu Selatan. (Red).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU