PorosLombok.com – Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 menempatkan Anggota DPR RI Mori Hanafi sebagai salah satu kandidat yang memiliki modal politik paling mengilap untuk maju pada Pilgub NTB 2029.
Politisi senior asal Bima tersebut dinilai sebagai figur yang sangat relevan dengan kebutuhan kepemimpinan masa depan daerah. Tantangan pembangunan yang semakin kompleks dan kompetitif memerlukan sosok yang memiliki kapasitas mumpuni.
“Kepemimpinan NTB lima tahun mendatang tidak cukup hanya bertumpu pada popularitas,” ujar Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto di Mataram, Senin (1/6/2026).
Pria yang karib disapa Didu ini menjelaskan bahwa faktor kewilayahan bukan lagi jaminan utama untuk memenangkan kontestasi. Hal yang jauh lebih krusial adalah kemampuan kandidat dalam membangun jejaring nasional yang kuat.
NTB dinilai membutuhkan nakhoda yang mampu mengonsolidasikan seluruh kekuatan politik secara efektif. Rekam jejak dalam memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat pusat menjadi nilai tawar yang sangat tinggi.
“Mori Hanafi memiliki kombinasi modal politik yang relatif lengkap,” katanya.
Didu mengonfirmasi bahwa kematangan Mori terbentuk melalui proses panjang yang tidak instan di dunia birokrasi dan parlemen. Karakter petarung yang tangguh membuatnya mampu bertahan dalam berbagai dinamika kompetisi yang sengit.
Karier politiknya merangkak dari posisi Wakil Ketua DPRD NTB hingga berhasil menembus kursi DPR RI. Kepercayaan internal partai bahkan mengantarkannya untuk memimpin jajaran DPW Partai Nasdem NTB saat ini.
“Ia memahami bagaimana kepentingan daerah diperjuangkan melalui kebijakan nasional,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa NTB tidak boleh lagi hanya mengandalkan pemimpin yang jago berwacana di tingkat lokal. Daerah ini membutuhkan figur negosiator efektif yang memiliki akses langsung ke lingkar kekuasaan pusat.
Pilgub 2029 akan menjadi momentum krusial yang menentukan arah transformasi ekonomi makro secara menyeluruh. Berbagai isu strategis seperti hilirisasi industri dan peningkatan kualitas SDM mendesak untuk segera dieksekusi.
“Tantangan NTB selama ini adalah memperkuat daya tawar di tingkat nasional,” ujarnya.
Menurut Didu, posisi strategis Mori sebagai Ketua KONI NTB juga akan menjadi daya ungkit politik yang sangat signifikan. Apalagi daerah ini akan mencetak sejarah besar sebagai tuan rumah bersama PON 2028.
Ajang olahraga terbesar nasional tersebut akan menjadi panggung pembuktian kapasitas manajerial yang sesungguhnya. Publik dipastikan bakal memberikan penilaian objektif terhadap kesuksesan penyelenggaraan acara itu.
“Kalau PON sukses, tentu publik akan memberikan penilaian positif,” katanya.
Ia menekankan bahwa indikator keberhasilan terlihat dari peningkatan prestasi atlet dan efisiensi anggaran daerah. Pelibatan dunia usaha secara masif diharapkan mampu menekan ketergantungan pada dana APBD.
Kemunculan tokoh ini sekaligus merepresentasikan kebutuhan riil akan agenda regenerasi kepemimpinan di tingkat provinsi. Komunitas lokal membutuhkan kombinasi energi muda yang berpadu dengan kematangan pengalaman empiris.
“Mori masih relatif muda, tetapi pengalaman politik dan organisasinya matang,” jelasnya.
Di sisi lain, analis kawakan ini mengkritik keras pemikiran sebagian kelompok yang masih mempersoalkan asal-usul geografis kandidat. Sentimen kedaerahan dinilai sudah tidak relevan lagi dalam sistem demokrasi modern.
“Kalau Mori berasal dari Bima, memangnya kenapa?” tegasnya.
Ia menyatakan bahwa ukuran utama seorang calon gubernur harus bersandar pada aspek integritas dan rekam jejak nyata. Demokrasi yang sehat wajib memberikan kesempatan setara bagi semua putra daerah untuk mengabdi.
Sekat-sekat kewilayahan harus segera dirobohkan demi kemajuan pembangunan yang berkeadilan di seluruh pelosok wilayah. Pemimpin masa depan wajib bekerja tulus untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat.
“Ketua partai itu bukan jabatan administratif,” ujarnya.
Didu menguraikan bahwa posisi pimpinan partai merupakan laboratorium kepemimpinan yang menguji kemampuan manajemen konflik. Mori terbukti lihai dalam membangun konsensus bersama dan menjaga soliditas internal organisasi.
Ketangguhan mental bertarung dalam kondisi penuh tekanan menjadi nilai tambah yang membedakannya dari figur lain. Banyak tokoh politik yang langsung tumbang ketika situasi di lapangan tidak lagi menguntungkan.
“Jika berbicara objektif tentang kapasitas, maka Mori Hanafi berada dalam baris terdepan,” pungkasnya.*















