LOTIM – Poroslombok.com | Seorang tokoh muda bernama Harisma Aly Satria, barang kali belum terlalu familiar di telinga warga Lombok Timur. Wajar saja, lantaran selama ini ia banyak menghabiskan waktu untuk berkarya di luar daerah.
Bang Ayi, begitu ia karib disapa merupakan putra kedua dari Bupati Lombok Timur dua priode, HM. Sukiman Azmy. Tapi tahukah anda, sebelum menjadi Bupati Sukiman adalah seorang perwira TNI AD.
Nah, kehidupan seorang tentara identik dengan karakternya yang tegas, disiplin dan tentu saja sering berpindah-pindah. Konsekuensi logisnya, tentu saja akan sangat jarang bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.
Hal itu pula yang dirasakan Bang Ayi. Tapi ternyata hal itu bukan menjadi persoalan bagi Ayi kecil saat itu. Ia justru menikmati proses hidup yang selalu berpindah-pindah yang justru begitu sangat berkesan bagi dia.
Kenapa berkesan? Sebab, kehidupan yang selalu berpindah-pindah itu membuat dia banyak bersinggungan dengan bermacam budaya, berbagai komunitas. Namun di lain sisi membuat perabotan tidak pernah awet, sebagian besar rusak di jalan.
“Yang pasti aset itu tidak pernah awet. Lebih banyak rusak di jalan, karna hidup selalu berpindah-pindah,” tutur Bang Ayi seperti dilansir dari kanal YouTube OPSI NTB Channel yang diunggah pada Selasa (31/1/23).
Ayi mengisahkan, saat ia dan kedua saudaranya dilahirkan tidak ada satu pun yang ditemani oleh sang bapak (HM. Sukiman Azmy-red), dikarenakan sang bapak sedang bertugas. Artinya, sejak lahir saja ia sudah disesuaikan untuk kehidupan yang mandiri.
Di lingkungan anak-anak tentara, ada sebuah adagium “anak kolong” yang artinya anak-anak tentara diajarkan untuk survive, mandiri dan oleh pribadi seorang Sukiman juga ditanamkan sikap istiqomah kepada putra-putranya.
Dituturkan Bang Ayi, bahwa bapaknya (Sukiman-red) pernah bertugas di Pekan Baru, Jakarta, Magelang hingga pada tahun 2000 balik ke Lombok Timur menjadi Komandan Kodim 1615.
Kala itu, Ayi tengah menempuh pendidikan di SMAN 1 Selong. Tamat dari SMA, ia kemudian melanjutkan kuliah di Jakarta pada Fakultas Hubungan Internasional Politik.
“Nah setelah lulus kuliah, kemudian kerja di Jakarta juga yaitu private sektor (perusahaan swasta-red) selama kurang lebih 16-18 tahun,” bebernya.
Meski bekerja di sebuah perusahaan bonafit yang berada pada deretan 100 perusahaan besar di dunia dengan jabatan yang strategis serta mendapatkan gaji yang besar, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk resign demi sebuah tujuan mulia, yakni mengabdikan diri kepada masyarakat.
Ketika ditanya lebih spesifik, ia kemudian memberikan sebuah analogi. Sebuah sungai di palestina bernama sungai jordan, airnya mengalir ke dua titik yaitu laut mati dan laut galilea. Satu sumber tetapi menjadi dua keadaan yang saling bertolak belakang.
“Kita tau sendiri namanya aja laut mati, tidak ada mikro organisme/kehidupan tidak ada flora fauna yang hidup di sana. Sedangkan di galilea sangat bertolak belakang, di sana flora fauna hidup, kehidupan masyarakat sekitar mapan dan wisatanya juga ada,” ujarnya.
Dari gambaran itu serta merujuk dari ilmu agama, urai dia, bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang tidak disimpan untuk diri sendiri, tetapi memberikan kemanfaatan untuk lingkungan sekitar.
Berbekal pengalaman hidup selama ini tentu menjadi pelajaran yang sangat berharga terutama dengan banyaknya interaksi dengan banyak etnik, kultur serta knowledge yang ditempa pengalaman membawa dia kepada sebuah keyakinan untuk berkontribusi membangun daerah.
Menurut Bang Ayi, Pulau Lombok sudah dianugerahi potensi alam yang indah seperti Sembalun, pantai pink, pantai surga, pantai tangsi, pantai kuta mandalika, senggigi, gili air, gili menu dan gili trawangan yang jika kesemuanya itu bisa di manage dengan baik, maka akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa.
“Nah bagaimana sebenarnya kita kembalikan konsep pariwisata ini dengan budaya dan kultur yang kita miliki. 98 persen penduduk pulau lombok beragama islam, maka strategi yang cocok adalah pariwisata berbasis syar’i. Sehingga tidak ada singgungan dengan budaya ataupun dengan agama,” jelasnya.
Berbicara pariwisata syar’i, kata dia, salah satu agendanya adalah untuk mensyiarkan bahwa islam itu adalah rahmatan lilalamin. Salah satu bentuk konkritnya adalah, bagaimana kita mampu mengkemas dengan kemasan yang bagus.
Seperti kita ketahui, pulau Lombok pada tahun 2017 didaulat oleh World Halal Tourism Award. Kemudian pada tahun 2019 oleh Global Muslim Trade Indeks (GMTI) sebagai salah satu destinasi wisata halal terbaik di dunia.
“Nah kenapa ini tidak kita kaji lebih lanjut. Kita sudah dibekali, sudah ditunjuk, sudah diapresiasi sebagai lokasi destinasi wisata berbasis muslim dengan penyediaan makanan hahal. Ini yang harus kita angkat, bagaimana ini bisa menarik minat non muslim? Nah, agama ini yang mesti kita sosialisasikan,” ujarnya.
Masih kata dia, pariwisata memiliki hubungan secara signifikan dengan mikro dan makro. Kaitannya dengan itu, maka Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) inilah yang harus dikembangkan secara sumber daya manusia (SDM).
Bicara soal pembangunan SDM, di Lombok Timur sendiri sudah menyediakan fasilitas untuk itu, seperti misalnya Loka Latihan Kerja (LLK) Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).
Untuk dapat mensinergikan keberagaman kultur dalam satu konsep, maka harus mengikutsertakan peran seluruh elemen masyarakat. Dari itu, harus ada konsep yang jelas, kemudian mekanisme yang rapi (sistematis), dan yang terakhir eksekusi.
Selanjutnya, kaum milenial juga menjadi salah satu elemen yang menurut hemat Bang Ayi harus mendapatkan ruang dan perhatian yang sama, khususnya ketika berbicara usaha berbasis digital.
Menurut dia, anak muda milenial memiliki pemikiran yang terbuka (open minded). Kalangan milenial ini juga memiliki akses teknologi, karna komunitas ini wellcome terhadap pengembangan teknologi berbasis platform-platform media.
Kemudian, sambung dia lagi, kalangan milenial ini memiliki pemikiran baru bersifat inovasi. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang harus digandeng dan diberdayakan.
Sebagaimana diketahui, di Lombok Timur terdapat government sektor, agraria sektor dan maritim sektor. Namun, alangkah lebih bagusnya jika UKM IKM ini secara kemandiriannya, juga bersinergi dan mengajak pengguna-pengguna lainnya secara inovatif.
“Contohnya, sekarang sedang marak toko-toko berbasis online yang rata-rata dari kaum milenial. Jadi secara cost (biaya) dapat kita minimise, kemudian secara market dapat kita develop (berkembang), karna subnya tidak hanya wilayah tetapi kita juga bisa melakukan pemasaran ke luar pulau,” jelasnya.
Anak-anak muda milenial, dalam pandangan Bang Ayi, merupakan aset yang harus dijaga dan dirawat serta dikembangkan ke arah yang baik. Selain itu, anak muda juga merupakan infestasi masa depan, karena tentu dari mereka ada yang akan menjadi estafet kepemimpinan di masa mendatang.
Untuk dapat melakukan itu semua, maka dibutuhkan sebuah keberpihakan dari penentu kebijakan. Atas dasar itulah, Bang Ayi akan berikhtiar mencalonkan diri sebagai bakal calon Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB pada Pemilu 2024 mendatang.
Sebagai informasi, Bang Ayi sudah bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB). Rencananya, ia akan mengambil Daerah Pemilihan (Dapil) Lombok Timur wilayah selatan yang terdiri dari Kecamatan Sakra Timur, Sakra, Sakra Barat, Keruak, Jerowaru, Sikur, Terara dan Kecamatan Montong Gading.
(PL-anas)















