PorosLombok.com – menjadi titik mula pencarian jejak panjang diaspora yang melintasi Selat Bali menuju tanah Blambangan pada tahun 1597. Di sana, napas kebudayaan Sasak tidak pernah benar-benar luruh meski telah lama terpisah dari tanah leluhur.
Keberadaan suku Sasak di Banyuwangi bukanlah sekadar singgah, melainkan menetap dan beranak-pinak dalam harmoni. Mereka tersebar di Kelurahan Pakis hingga Klatak, membawa identitas yang tetap melekat kuat pada sanubari setiap warganya.
Diksi “Sasak” bahkan abadi dalam bentang alam, seperti nama Sungai Sasak Bagong yang mengalir tenang. Penamaan ini bukan perkara sederhana, melainkan penanda bahwa mereka adalah penghuni mula yang membuka ruang kehidupan di sana.
Sejarah mencatat bahwa migrasi ini berakar dari ekspedisi besar saat penguasa Gelgel membentangkan pengaruhnya. “Pasukan yang dikirim terdiri dari pasukan Bali, Lombok, dan Sumbawa,” tulis Gede Parimarta dalam catatan literasi mengenai masa itu.
Sebagian dari pasukan tempur tersebut memilih untuk tidak pulang dan membangun pemukiman baru di Jawa Timur. Inilah cikal bakal komunitas yang hingga kini masih mendaku sebagai keturunan Sasak dengan kebanggaan yang tetap terpelihara.
Narasi lain berkembang di Kelurahan Pakis mengenai kedatangan dua tokoh agung yang membawa risalah suci. Kehadiran mereka diyakini menjadi titik awal penyebaran agama Islam yang kemudian dipeluk erat oleh penduduk setempat.
”Dua tokoh penyebar Islam itu yang menjadi sebab mereka memeluk Islam sampai dengan saat ini,” ungkap seorang warga dalam memori kolektifnya. Sosok mereka dihormati sebagai pilar spiritual yang mengikat persaudaraan antarwilayah.
Hubungan antara Lombok dan Banyuwangi sejatinya merupakan sebuah jalan dua arah yang saling mengisi. Tidak hanya orang Sasak yang menyeberang ke barat, namun arus balik dari Blambangan pun mengalir menuju selatan Pulau Lombok.
Di pesisir selatan Lombok, ditemukan banyak masyarakat yang justru mengakui bahwa leluhur mereka berasal dari tanah Jawa. Mereka membawa serta kebudayaan dan sistem nilai yang kemudian berasimilasi dengan kearifan lokal setempat.
Bukti otentik dari persinggungan budaya ini tersimpan rapi dalam bentuk pusaka keris yang eksotik. Banyak keris di wilayah Lombok selatan yang secara visual memiliki langgam dan gaya seni kriya khas dari kerajaan Blambangan.
Migrasi warga Blambangan ke Lombok dipicu oleh pergolakan hebat yang menghancurkan tatanan sosial di tanah asal. Konflik besar melawan kongsi dagang asing memaksa rakyat mencari perlindungan di tanah seberang yang lebih aman.
”Peristiwa ini menyebabkan kehancuran di pihak Blambangan dan sebagian rakyat bermigrasi ke berbagai wilayah termasuk Lombok,” tulis sebuah catatan. Pelarian ini bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan misi penyelamatan martabat.
Kini, di Kelurahan Klatak saja, terdapat ratusan kepala keluarga yang masih menjaga tradisi lisan tentang asal-usul mereka. Meskipun bahasa mungkin telah berbaur, memori tentang tanah Lombok tetap hidup dalam ingatan kolektif keluarga.
Kisah diaspora ini membuktikan bahwa batas geografis tidak mampu memutus ikatan darah dan budaya. Suku Sasak di Banyuwangi adalah bukti hidup tentang ketangguhan sebuah identitas yang mampu melintasi zaman dan gejolak politik masa lalu.
Dialog antarbudaya ini tercipta melalui proses panjang yang melibatkan peperangan, perdagangan, hingga syiar agama. Semuanya melebur menjadi satu narasi besar yang memperkaya keragaman etnis di wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Melalui pendekatan storytelling, kita melihat bahwa sejarah bukan sekadar deretan angka yang kaku. Ia adalah cerita tentang manusia, tentang keberanian untuk melangkah jauh, dan tentang kerinduan yang menetap pada nama sebuah sungai.
Penelitian sejarah lebih lanjut terus digali untuk mengungkap tabir yang lebih dalam mengenai hubungan ini. Setiap situs dan nama kelurahan menyimpan rahasia tentang bagaimana orang Sasak membentuk wajah Banyuwangi seperti sekarang ini.
Akhirnya, jejak Sasak di tanah Jawa adalah cermin dari Indonesia yang cair dan saling terhubung. Sebuah narasi tentang persaudaraan lama yang kembali ditemukan di sela-sela riuhnya modernitas, menjaga api sejarah agar tetap menyala.*














