PorosLombok.com – Abad pertengahan Eropa menyimpan cerita yang gelap dan menyesakkan. Perburuan penyihir menjadi bab kelam yang tak terhapuskan dalam sejarah, terutama bagi perempuan. Pada masa itu, menjadi “berbeda” adalah dosa. Sebuah identitas yang dianggap menyimpang cukup untuk mengantarkan seseorang ke tiang pembakaran atau jerat tali yang dingin.
Di bawah kendali Gereja Katolik, perempuan dipandang sebagai makhluk inferior, manusia kelas dua yang tidak lebih dari sekadar sumber masalah. Diskriminasi ini bukan hanya tradisi, tetapi keyakinan yang disokong oleh dogma keagamaan. Dalam Summa Theologica, Santo Thomas Aquinas menulis bahwa perempuan adalah ciptaan “cacat,” makhluk yang lebih rendah secara intelektual, dan tidak mampu membuat keputusan moral.
Perspektif ini berakar kuat dan menjadi pembenaran atas berbagai kekerasan terhadap perempuan. Diskriminasi ini berlangsung turun-temurun, menyelimuti setiap aspek kehidupan. Di tengah gelombang kegelapan ini, Gereja mengukuhkan kekuasaannya dengan memburu siapa pun yang dianggap sebagai ancaman.
Perempuan, terutama yang mandiri atau bekerja sebagai tabib, sering kali menjadi sasaran empuk. Ketakutan terhadap sihir dan iblis digunakan untuk membungkam mereka yang berani berbeda. Tahun 1486, dua pastor Dominikan asal Jerman, Johann Sprenger dan Heinrich Kramer, menulis Malleus Maleficarum—buku pedoman untuk memburu penyihir.
Dalam buku ini, mereka menguraikan bagaimana mengidentifikasi penyihir, memaksa pengakuan, hingga cara mengeksekusi mereka. Buku ini menjadi senjata Gereja untuk menyeret perempuan ke pengadilan. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan sering kali tak berdasar, hanya rumor atau hasil dendam pribadi.
Gelombang perburuan mencapai puncaknya pada abad ke-16 dan 17. Ratusan ribu perempuan di seluruh Eropa menjadi korban. Mereka dieksekusi dengan cara yang kejam: dibakar hidup-hidup, digantung, atau dipenjarakan hingga mati. Wilayah seperti Jerman, Prancis, Swiss, dan Skotlandia mencatatkan angka korban tertinggi.
Tidak hanya Gereja Katolik, Gereja Protestan pun ikut serta dalam pembantaian ini, menunjukkan betapa dalam paranoia akan sihir mencengkeram masyarakat Eropa. Nama-nama seperti Joan of Arc, Margherita Porete, dan Petronilla de Meath adalah simbol dari kekejaman zaman itu.
Joan of Arc, pahlawan Prancis, menjadi korban manipulasi pengadilan gereja. Tuduhan bidat dan penyihir mengantarkannya pada kobaran api di Rouen pada 1431. Margherita Porete, seorang mistikus Prancis, dihukum mati karena menulis buku yang dianggap sesat.
Petronilla de Meath, pelayan yang tak berdaya, dijadikan tumbal setelah majikannya melarikan diri. Tubuhnya dihabiskan oleh api, sementara tuduhan atasnya tetap tak terbukti. Tak berhenti di sana, Malleus Maleficarum juga menargetkan perempuan yang hanya ingin menjalani hidup sederhana.
Tabib desa, perempuan yang bekerja di bidang pengobatan tradisional, atau mereka yang menunjukkan kemandirian, semuanya diseret ke pengadilan. Bahkan pengakuan mereka sering kali didapat melalui penyiksaan. Isabel Gowdie di Skotlandia, misalnya, memberikan pengakuan yang menguatkan anggapan masyarakat tentang sihir setelah disiksa tanpa henti.
Perburuan penyihir bukan hanya tentang membungkam perempuan. Ini adalah cerita tentang bagaimana kekuasaan absolut Gereja menginjak kebebasan berpikir dan keberagaman. Kekuasaan Gereja yang saat itu mencakup agama, politik, hingga sosial, membuatnya menjadi satu-satunya suara yang menentukan siapa yang layak hidup dan mati.
Siapa pun yang menyimpang dari ajaran resmi dianggap ancaman. Hari ini, perburuan penyihir menjadi salah satu simbol dari apa yang disebut sebagai “Masa Kegelapan.” Tidak hanya karena minimnya cahaya ilmu pengetahuan, tetapi karena kebrutalan yang ditunjukkan manusia kepada sesamanya.
Di bawah bayang dogma dan api inkuisisi, ribuan perempuan kehilangan nyawa mereka. Cerita ini adalah peringatan abadi: kekuasaan yang tak terbatas, tanpa ruang untuk perbedaan, adalah jalan menuju kehancuran moral.
Setiap pembakaran atau eksekusi tidak hanya menghanguskan tubuh perempuan, tetapi juga menghancurkan harapan, kehidupan, dan keberanian. Jejak kengerian ini tidak mudah dihapus, dan sejarah terus berbicara untuk mengingatkan dunia.
Bagi perempuan-perempuan di masa itu, setiap langkah adalah ancaman. Hidup dalam kebebasan adalah kemewahan yang tidak bisa dinikmati. Dan bagi kita, sejarah ini adalah panggilan untuk memastikan bahwa kebebasan berpikir dan keadilan tidak lagi menjadi korban dari kekuasaan dan ketakutan.
(Arul/PorosLombok)















