Ponpes Multikultural Santong Lahir untuk Satukan Keragaman Bangsa

LOMBOK TIMUR | Poros Lombok-

Indonesia merupakan Negara yang memiliki keragaman budaya yang begitu banyak, dimana sangat rentan akan terjadinya konflik internal yang bernuansa Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) maka dari itu diperlukan suatu sistem pendidikan yang dapat memberikan solusi alternatif bagi seluruh kebutuhan dan tuntutan masyarakat Indonesia.

Hal inilah yang mendasari berdirinya Pondok Pesantren Multikultural yang ada di Dusun Lingkok Sati Desa Santong Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur.

Saat ditemui Awak media berkunjung Minggu (3/4/2022) terlihat suasana Pondok Pesantren (Ponpes) ini berbeda dari ponpes kebanyakn.

Sedikitnya ada 21 santri yang mengumandangkan lantunan ayat suci Al Quran, santri yang ada menjalin komunikasi tak jarang menggunakan tutur bahasa daerahnya masing-masing.

“Kita disini memiliki santri yang kebanyakan berasal dari luar, yakni Flores, Bima, dan Sumbawa,” tutur Dewi Sartika Pengurus sekaligus anak dari Pendiri Ponpes Multikultural ini.

“Jadi utamanya kita ajarkan bagaimana mereka bergaul dan tidak mengedepankan perbedaannya,” lanjutnya.

Berdirinya Ponpes ini berbarengan dengan motivasi ayahandanya Yahya Husni yang ingin menebarkan semangat penghormatan mengenai perbedaan beragama, ras, suku dan sebagainya.

“Dan juga kami berada di tengah-tengah masyarakat yang dominanya meyakini beberapa Ormas Islam seperti NW, NWDI, NU, dan Muhammadiya,” terangnya.

Pondok pesantren ini didirikan 2018.

Semenjak berdirinya empat tahun silam, Ponpes ini dilanda dua peristiwa pilu yakni Gempa Bumi dan Covid-19.

Ini lah yang membuatnya sempat mengalami penurunan.

Untuk ponpes yang tergolong baru, ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan ponpes yang lainnya, yakni fokus kepada nilai Multikultural.

“Prinsip Multikultural ini memang dicanangkan untuk membangun ponpes yang memiliki nilai Moderen, moderat, dan manusiawi,” jelasnya.

Terlepas dari itu ia juga menceritakan kisah unik pemberian nama Multikultural di Ponpes ini.

“Asal muasal memberikan nama Multikultural adalah karna pendiri pondok mengidolakan sosok frop H A, Sonhaadji, KH., MA., PhD yang di kenal dengan sosok bapak multikulturalnya,” sebutnya.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa sosok Sonhaadji menurutnya patut diteladani.

Ponpes ini bernaung dalam Yayasan Islam Santong yang didirikan oleh Yahya Husni sendiri.

Yayasan ini bentuknya memang adalah yayasan keluarga.

Adapun biaya untuk masuk di pondok ini hanya 200 rb, itu untuk hanya sekedar makan, untuk listrik, air dan sebagainya ditanggung yayasan.

Lebih lanjut ia berharap pesantren ini kedepannya bisa berkembang, diterima masyarakat dan mampu menghasilkan sosok yang berjiwa modernis, peka terhadap kemajuan peradaban manusia dengan mengedepankan sikap keterbukaan, pandai menyesuaikan diri, serta menjunjung nilai kemanusiaan.

(Arul / Poros Lombok)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU