LOMBOK TIMUR – PorosLombok.com | Masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan yang ditandai dengan beberapa gejala alam yang disebut pancaroba seperti berubahnya suhu dan cuaca secara drastis, munculnya mendung tebal disertai petir, gelombang pasang air laut, angin kencang hingga angin puting beliung.
Menyikapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur sedang melakukan pengkajian dan inventaris sebagai upaya mitigasi terhadap risiko bencana memasuki musim penghujan, terlebih hujan disertai angin kencang yang terjadi pada hari minggu kemarin telah mengakibatkan pohon tumbang di Pringgasela dan Sakra.

Menurut Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Lombok Timur Lalu Mulyadi, bahwa di masa transisi/pancaroba ini pihaknya dituntut untuk bekerja ekstra, lantaran selain masih harus menyuplai kebutuhan air bersih ke wilayah kecamatan Jerowaru dan Keruak, juga harus membagi waktunya untuk mengatensi beberapa hal terkait adanya potensi bencana.
“Di beberapa wilayah di Lombok Timur sudah mulai turun hujan. Bahkan hujan lebat yang terjadi kemarin mengakibatkan pohon tumbang di Pringgasela dan Sakra, dan kami langsung menerjunkan satu unit Tim Reaksi Cepat (TRC),” tutur Lalu Mulyadi yang ditemui media ini, Senin (13/11/2023).
Disebabkan itu, Lalu Mulyadi mengimbau kepada masyarakat agar memperhatikan kebersihan, terutama selokan/parit agar ketika terjadi hujan lebat tidak terjadi banjir atau luapan air yang dapat menggenangi ruas jalan.
“Seperti yang terjadi kemarin di PTC Pancor ketika terjadi hujan pertama sudah langsung terjadi luapan dan menggenangi ruas jalan. Syukur Alhamdulillah masyarakat dibantu anggota cepat menyelesaikannya,” ujarnya.
Saat yang sama, pihaknya juga telah menerjunkan tim TRC untuk menginventarisir pohon-pohon yang sudah termakan usia yang ada di jalan-jalan utama seperti di jalan Pancor-Keruak, Pancor-Labuhan Haji, Pancor-Masbagik dan lainnya.
Nantinya pihak BPBD akan berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup dan DAMKAR untuk kemudian segera mengambil sikap. Artinya, terhadap pohon yang berpotensi tumbang agar segera dipangkas atau bahkan ditebang.
“Sehingga tidak terjadi pohon tumbang dan memakan korban dulu baru kita bertindak. Makanya hari ini saya tugaskan tim TRC untuk inventaris,” kata dia.
Adapun beberapa titik yang berpotensi terjadi luapan air mengacu pada pengalaman tahun lalu, papar dia, yakni Gelang, PTC Pancor, Lendang Bedurik, Pasar Kelape Selong, Bagek Bontong, Songak, dan di beberapa titik lainnya.
Untuk mengurai persoalan tersebut, Pemda Lotim bersama BPBD, DLH dan DAMKAR sejak dua bulan lalu berinisiatif untuk melakukan pengerukan/ mengurangi sedimentasi, yaitu pecahan-pecahan material yang umumnya terdiri atas uraian batu-batuan secara fisis dan secara kimia.
“Kalaupun terjadi banjir pasti kita akan terjunkan tim untuk sifatnya mengurangi dampak dari banjir itu. Kita tidak bisa mencegah terjadinya bencana, tapi minimal kita mengurangi dampaknya risikonya. Daruratnya itu yang kita selesaikan dulu,” jelasnya.
Tak hanya itu saja, Pemda Lombok Timur bersama BPBD, DLH dan DAMKAR telah merencanakan untuk membentuk posko bencana, agar nantinya ketiga OPD tersebut bisa turun secara bersama-sama, tidak lagi sendiri-sendiri sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
“Rencananya kita akan membentuk posko bencana. Apakah nanti BPBD yang jadi komandonya, kita turun bersama-sama DLH dan DAMKAR punya sinso untuk menebang kayu. Sehingga Pemerintah bisa memberikan kenyamanan kepada pengguna jalan, dan masyarakat pada umumnya,” demikian Lalu Mulyadi.
(Anas/PL)















