Disnakeswan Lotim Bidik Potensi PAD dari Pengiriman Sapi ke Luar Provinsi

LOTIM – PorosLombok.com | Terpaan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda hewan ternak pada tahun 2023 menyebabkan usaha di bidang peternakan di Lombok Timur baik dari sisi perbankan maupun perputaran roda perekonomian tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Karenanya, pada tahun 2024 mendatang Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur berkomitmen untuk menggerakkan kembali perekonomian masyarakat petani peternak melalui perbankan dengan program KUR Lotim Berkembang.

Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur, Masyhur, SP, bahwa saat ini geliat sirkulasi usaha ternak sapi di Lombok Timur sudah mulai normal kembali, pasca berakhirnya virus PMK. Bahkan Pemda Lotim sudah membuka peluang kerja sama dengan daerah lain, dalam rangka pengiriman ternak sapi.

“Bahkan tadi pagi kita membuat rekom ke provinsi untuk pengiriman sapi ke Kalimantan Timur sebanyak 30 ekor,” kata Masyhur kepada poroslombok.com, Senin (13/11/2023) kemarin.

Menurut dia, pengiriman sapi ke provinsi dengan julukan “Benua Etam” itu atas permintaan pemerintah Kalimantan Timur sendiri, lantaran kabupaten Lombok Timur memiliki keunggulan bebas dari anthrax dan SE (Septicaemia Epizootica) atau disebut juga dengan penyakit ngorok pada sapi.

Ia menyebut, pada tahun sebelumnya Lombok Timur tidak memiliki kuota pengiriman sapi ke luar daerah, lantaran virus PMK dan tidak ada pengusaha lokal yang bisa bergerak untuk pengiriman antar daerah, sehingga pihaknya mendorong PPHANI untuk berkolaborasi dengan para pengusaha yang ada di Kota Mataram.

Harapannya, kedepan Lombok Timur bisa mendapatkan kuota tersendiri serta pengiriman dapat dilakukan oleh pengusaha Lombok Timur sendiri. Dengan demikian sektor tersebut dapat menyumbang PAD kepada daerah.

“Selama ini kan selalu menggunakan pengusaha yang dari Lombok Tengah, tapi dia beli sapi di Lombok Timur. Nah yang kita pingin itu silahkan pintu gerbangnya dari mana saja, tetapi harus melibatkan pengusaha dari Lombok Timur,” tekannya.

Sejatinya Disnakeswan Lombok Timur menginginkan pengiriman sapi dapat dilakukan langsung antar kabupaten untuk memangkas birokrasi serta memperluas kesempatan bagi pengusaha Lombok Timur. Sayangnya regulasi mengharuskan rekomendasi harus dari provinsi.

Kendati begitu, Disnakeswan Lotim akan mendorong pengusaha lokal untuk menggunakan jasa perbankan, serta mendorong para pengusaha lokal untuk membangun relasi dengan provinsi lain dalam pengiriman ternak sapi. Secara kebetula delegasi Pemprov Kaltim akan berkunjung ke Lotim dalam minggu ini.

“Dengan begitu maka pengusaha kita akan mendapatkan keuntungan lebih, ketimbang kita hanya sebagai sarana tapi yang bermain orang Lombok Tengah,” sebutnya.

Soal perbankan, Dinas sangat berharap agar para petani peternak dan pengusaha dapat mengakses permodalan melalui perbankan secara mandiri. Karna program KUR Lotim Berkembang dihajatkan sebagai stimulus untuk mengenalkan dunia perbankan kepada peternak.

Ditanya soal jumlah polulasi sapi di Lombok Timur, Masyhur mengaku belum memiliki data yang akurat. Tetapi jika merujuk pada hasil vaksinasi, maka jumlah populasi sapi di daerah ini sebanyak 132 ribu ekor.

Namun angka tersebut tidak menutup kemungkinan masih bisa bertambah lantaran masih banyak sapi yang belum divaksin, terutama sapi yang baru berusia 1-5 bulan dan termasuk sapi liar yang ada di Sembalun.

“Makanya tadi saya kumpulkan teman-teman UPT, saya minta supaya mendata kembali berapa jumlah populasi sapi kita yang betul-betul riil di lapangan. Karna nanti hari Kamis kita mau rapat sama BPS, sehingga kita ingin berapa sih data yang riil menurut BPS,” terangnya.

Selain itu, Dinas Peternakan juga akan meminta data dari pasar hewan terkait jumlah sapi Lombok Timur  yang dibeli oleh jagal setiap hari pemasaran, dari hari Senin sampai Jumat. Dengan demikian akan dapat dilihat berapa jumlah sapi Lombok Timur yang dibawa keluar.

“Dengan begitu kit bisa memprediksikan, berapa yang lahir, berapa yang dipotong di luar Lombok Timur, dan berapa yang kita potong di sini. Sehingga kelihatan dia, apakah seimbang jumlah sapi yang lahir dengan yang kita potong,” paparnya.

Selama ini, lanjut dia, yang terlaporkan hanya sapi yang dipotong pada saat hari raya kurban dan di RPH saja. Sementara yang dipotong langsung oleh masyarakat saat begawe (acara syukuran-red) tidak pernah terlaporkan.

Dirinya kemudian membuat perbandingan, andai jumlah sapi yang dipotong di Lombok Timur dengan yang dibawa keluar berjumlah 10 ribu ekor secara akumulatif, sementara yang lahir 20 ribu ekor, itu artinya kita masih surplus.

“Jika demikian kalo orang butuh ya kita keluarkan sapi ini, tidak mesti dia lebih dari seratus ribu. Yang penting sirkulasi sapi ini tetap jalan, sehingga perekonomian masyarakat juga berjalan serta PAD kita meningkat,” demikian Masyhur.

(Anas/PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU