Kesehatan Mental Guru Menentukan Kualitas Pendidikan

Oleh Sri Helmi Hayati, S.Psi,M.A,M.Psi, Psikolog

OPINI, PorosLomnbok | Seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang sangat pesat, tentu itu semua memberikan dampak pada dunia pendidikan, tak terkecuali pada para guru. Tuntutan dan masalah yang harus dihadapi, baik itu dari internal maupun eksternal, seringkali menjadi persoalan pelik bagi mereka yang tidak mampu menghadapinya sehingga berdampak pada persoalan kesehatan mental mereka sendiri.

Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan mental merupakan kondisi sejahtera seseorang, ketika seseorang menyadari kemampuan dirinya, mampu mengelola stres yang dimiliki, beradaptasi dengan baik, dapat bekerja secara produktif dan berkontribusi untuk lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang sehat mentalnya akan memengaruhi bagaimana memandang dirinya dan lingkungan sekitarnya serta mampu beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan dan stressor yang dihadapinya.

Ketika guru tidak mampu menghadapi stressor yang dialami, mereka rentan mengalami problem mental. Padahal kunci dari keberhasilan suatu pendidikan salah satunya adalah peran dari seorang guru. Peran guru di dalam menjalankan tugasnya tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Para guru tidak hanya dituntut mentransfer pengetahuan atau materi pelajaran saja kepada peserta didiknya melainkan lebih dari itu, yakni membimbing, mengarahkan, dan membantu kemudahan peserta didik menjalani proses pembelajaran itu sendiri. Faktanya, belum semua guru memiliki kedewasaan secara psikologis sebagai bekal menghadapi tekanan sehingga mereka rentan mengalami problem mental.

Beberapa sekolah negeri di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang telah dikunjungi untuk melakukan kegiatan psiko edukasi kesehatan mental dan screening awal kondisi kesehatan mental guru, ditemukan bahwa sekitar 60 orang dari 170 guru yang mengalami problem mental, yakni stres, cemas maupun depresi. Gangguan yang dialami disebabkan oleh

persoalan pribadi, keluarga, kesehatan (penyakit kronis yang mengganggu  pekerjaan), beban kerja bertambah /menumpuknya tugas administrasi sekolah, sulit membagi waktu antara peran sebagai guru dan keluarga, masalah siswa, lokasi kerja jauh, lingkungan kerja yang tidak nyaman.

adanya kompetisi kurang sehat antar guru), honor yang didapatkan tidak sesuai harapan, hutang dan yang lainnya. Kondisi yang dialami guru tersebut tentulah menjadi persoalan dalam dunia pendidikan karena tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis guru sendiri, tetapi berdampak terhadap kondisi para peserta didik.

Guru yang mengalami problem mental bisa menyebabkan kurang memahami kondisi dan kebutuhan para peserta didik sehingga menyebabkan terjadinya praktik pembelajaran yang tidak efektif dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi peserta didik pun menjadi.terabaikan. Bisa dibayangkan guru yang sedang mengalami persoalan psikologis mengajarkan peserta didik yang sedang dalam fase anak remaja dengan emosi yang tidak stabil yang membutuhkan bimbingan dan arahan.

Tentunya ini mengakibatkan proses pembelajaran terganggu. Apalagi berhadapan dengan peserta didik yang awalnya mengalami persoalan psikologis dari keluarga dan yang lainnya, ini tentu menjadi persoalan berat yang bisa memicu konflik antara guru dengan peserta didiknya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental guru penting untuk diperhatikan karena ikut andil dalam memengaruhi kualitas dan efektifitas pendidikan bagi para peserta didiknya. Jadi, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan guru, baik secara fisik maupun mental dalam menentukan kualitas pendidikan. Jika kesehatan mental seorang guru baik, proses pembelajaran berjalan efektif.

Sebaliknya, jika guru mengalami problem kesehatan mental maka akan mengalami kesulitan berinteraksi, baik dengan rekan kerja maupun peserta didiknya sehingga proses pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi inilah yang menyebabkan guru harus berupaya meningkatkan kesehatan mentalnya

agar generasi yang dihasilkan berkualitas (cerdas, terampil, dan berakhlak mulia), dan bisa menjadi role model serta menjadi sumber pengetahuan bagi para peserta didiknya.

Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesehatan mental guru yakni perlu meningkatkan kemampuan / keterampilan profesional, kenali dan temukan resources yang dimiliki, menjalin komunikasi dan hubungan interpersonal yang baik, dijamin kesejahteraan, ikhlas mengajar, berpikir dan melakukan hal positif, menghargai diri sendiri, dan sehat secara fisik maupun psikologis. Ketika mengalami problem mental yang tidak mampu diatasi maka meminta bantuan profesional yakni psikolog maupun psikiater untuk membantu menanganinya.

Dengan demikian, tidak hanya guru yang dituntut kesehatan mentalnya, tetapi pihak sekolah juga perlu menerapkan kesehatan mental.

agar proses pembelajaran berjalan sesuai harapan. Bisa dengan cara menciptakan situasi sekolah aman dan nyaman, menciptakan hubungan harmonis antara para guru, menjalin hubungan erat antara pihak sekolah dan orang tua, pahami karakteristik anak dan sesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan anak, menerapkan metode belajar yang memotivasi anak dan membuat suasana belajar menyenangkan. (*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU