LOMBOK TIMUR | Rilisan terbaru dari LSI Deny JA mengenai Pilkada Lombok Timur memberikan pukulan telak terhadap hasil survei yang sebelumnya dikeluarkan oleh Prediksi Survei dan Statistik Indonesia (Presisi).
Hanya berselang satu minggu setelah Presesi merilis surveinya, LSI Deny JA mengeluarkan hasil survei yang menunjukkan perbedaan signifikan dalam elektabilitas calon bupati Lombok Timur.
Survei yang dilakukan oleh Presisi pada periode 25 Mei hingga 4 Juni 2024 memprediksi elektabilitas calon bupati Lombok Timur sebagai berikut: Haerul Warisin sebesar 33%, Syamsul Luthfi 14,8%, dan Rumaksi 13,2%.
Namun, survei LSI Deny JA yang dirilis satu minggu setelahnya menunjukkan hasil yang sangat berbeda. Dalam survei ini, pasangan Syamsul Luthfi – Abdul Wahid menempati posisi teratas dengan elektabilitas sebesar 38,4 persen.
Pasangan Haerul Warisin – Edwin Hadiwijaya berada di posisi kedua dengan 21,6 persen, sementara pasangan Rumaksi – Amrul Jihadi di posisi ketiga dengan 17,7 persen. Sebanyak 22,3 persen responden belum menentukan pilihan mereka.
Sebagian besar masyarakat di media sosial tidak mempercayai hasil survei yang dilakukan oleh Presisi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hasil survei Presisi yang dianggap jauh meleset dari kenyataan.
Salah satu contohnya adalah survei Presisi mengenai partai politik yang diprediksi mendapatkan kursi di DPR RI dari NTB. Dalam survei tersebut, Presisi memprediksi bahwa dua partai petahana, NasDem dan PPP, akan kehilangan kursi DPR RI dari NTB.
Namun, hasil Pemilu 2024 menunjukkan bahwa NasDem berhasil mendapatkan dua kursi dari NTB, sementara PPP menempati posisi ke-4 dari 8 kursi yang diperebutkan di Dapil Lombok, meski akhirnya tidak lolos karena tidak memenuhi ambang batas parliamentary threshold.
Perbedaan hasil survei antara LSI Deny JA dan Prediksi Survei dan Statistik Indonesia (Presisi) menunjukkan adanya perbedaan metodologi dan keakuratan dalam memprediksi elektabilitas calon dan partai politik.
Salah satu warganet di media sosial mengungkapkan bahwa survei ini mencerminkan pentingnya bagi masyarakat untuk kritis dalam menanggapi hasil survei, mengingat tidak semua survei memiliki tingkat akurasi yang sama (*)















