LOTIM – PorosLombok.com || Bakal Calon Wakil Gubernur Dr. HM. Sukiman Azmy hadiri acara Haul dan Tablig Akbar yang dirangkai dengan tasyakuran apresiasi santri yayasan Yadinu Masbagik Utara pada Minggu 23 Juni 2024, pagi.
Dalam pidatonya, HM. Sukiman Azmy menguraikan dua substansi dalam acara tersebut. Yakni Haul para pendiri pondok pesantren dan Tablig Akbar. Yang kedua adalah apresiasi kepada santri berprestasi.
Melanjutkan materi yang sudah disampaikan oleh TGH. Ishak Abdul Gani selaku pembina yayasan Ponpes Yadinu terkait ajakan kepada jamaah untuk senantiasa membantu melanjutkan perjuangan para pendiri Ponpes Yadinu, Sukiman mempertegas kembali melalui penjelasan tentang pelaksanaan dua jenis ibadah.
“Yang pertama adalah ibadah spiritual/ritual berupa shalat, zikir dan lain-lain. Yang kedua adalah ibadah sosial seperti zakat, infak, sodaqoh, termasuk ibadah kurban,” ucap Sukiman Azmy.
Kaitannya dengan ibadah kurban yang baru dilaksanakan pada momen Hari Raya Idul Adha beberapa hari yang lalu, Sukiman mencermati bahwa gairah masyarakat Lombok Timur dalam berkurban belum terlalu membanggakan.
Pasalnya, di beberapa Masjid besar di Lombok Timur rata-rata menyembelih hewan kurban 10-15 ekor sapi, padahal masyarakat Gumi Patuh Karya memiliki potensi besar untuk mengumpulkan hewan kurban dengan jumlah yang jauh lebih banyak.
Sukiman lantas membandingkannya dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat di sebuah dusun di Kabupaten Banjar Negara Jawa Tengah yang penduduknya hanya berjumlah sekitar 1.500 orang, tetapi yang berkurban setiap tahun sekitar 750 orang.
“Bayangkan satu dusun itu menyembelih 79 ekor sapi dan 257 ekor kambing, daging yang terkumpul 25 ton. Dagingnya kemudian disebarkan ke dusun dan desa yang lain,” tuturnya.
Lantas seperti apa konsepnya sehingga masyarakat satu dusun tersebut bisa menyembelih hewan kurban sebanyak itu?, Ternyata masyarakat di dusun tersebut menabung sehari sepuluh ribu rupiah yang dikumpulkan selama satu tahun.
Pada kesempatan itu juga Sukiman menyampaikan satu riwayat sahabat Nabi bernama Abdullah Bin Mubarak yang pergi menunaikan ibadah Haji. Suatu ketika usai melaksanakan ibadah Haji, Abdullah Bin Mubarok duduk di Masjidil Haram hingga tertidur, kemudian bermimpi.
Dalam mimpinya, dua orang malaikat itu memperbincangkan jumlah jamaah haji tahun itu yang berjumlah 600 ribu. Dari jumlah tersebut yang mendapatkan Haji mabrur tidak lebih dari 10 persen.
“Malaikat yang satunya mengatakan, tapi dari 10 persen itu ada satu orang yang istimewa. Dia tidak melaksanakan ibadah haji, tapi mabrur Haji-nya. Dia adalah Ali Bin Almuaffah,” sebut Sukiman berkisah.
Ketika terbangun, sahabat Nabi tersebut tertegun. Ternyata orang yang disebut oleh dua malaikat itu berasal dari Damaskus, yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu yakni Ali Bin Almuaffah.
Abdullah Bin Mubarok kemudian tidak pulang ke rumahnya di Yaman, tetapi dia pergi ke Damaskus untuk mencari tukang Sol Sepatu tersebut untuk mencari apa rahasianya sehingga tukang sol sepatu itu mendapat haji mabrur, padahal tidak mengerjakan haji.
Setelah bertemu, Ali Bin Almuaffah kemudian bercerita bahwa suatu ketika dirinya bersedekah sebanyak 350 Dinar kepada seorang janda miskin yang memiliki 4 anak yatim yang sedang kelaparan. Uang tersebut sejatinya untuk biaya haji berdua dengan istrinya.
Apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita diatas?, ternyata ibadah sosial terkadang pahalanya lebih besar daripada ibadah spiritual/ritual.
Dari pemaparannya itu, secara tersirat HM. Sukiman Azmy mengingatkan sekaligus mengajak jamaah yang hadir untuk senantiasa memupuk dan memperbanyak ibadah sosial yang kaitannya dengan ajakan TGH. Ishak Abdul Gani kepada jamaah untuk membantu meneruskan perjuangan 50 orang pendiri Ponpes Yadinu, dengan cara mengeluarkan sumbangan.
(Anas/PL)















