(PorosLombok) DKI Jakarta berada dalam posisi rentan terhadap potensi gempa besar yang diakibatkan oleh dua megathrust yang mengapit wilayahnya,
Menurut paparan mantan Ketua Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) Subardjo dalam Sarasehan Nasional IKAMEGA 2018, seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Jawa Tengah bagian barat dapat memicu gempa dengan magnitudo hingga 8,7, berpotensi memicu tsunami dan kerusakan besar.
Subardjo menjelaskan bahwa Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Jawa Tengah bagian barat, yang masing-masing memiliki potensi magnitudo 8,7, telah menjadi perhatian para ilmuwan selama hampir dua dekade.
“Kedua megathrust ini dapat mempengaruhi kerusakan bangunan atau infrastruktur di Jakarta,” ujarnya. Kedua megathrust ini dipantau menggunakan jaringan seismograf bawah laut di sekitar Selat Sunda hingga selatan Sukabumi.
“Seismic gap” pada Megathrust Selat Sunda, yaitu zona yang belum mengalami gempa besar dalam waktu lama, menambah kekhawatiran. Megathrust Selat Sunda memiliki panjang 280 km dan lebar 200 km, dengan potensi menghasilkan gempa setara dengan 9,0 Magnitude Moment atau MW, yang dapat menyebabkan tsunami parah jika terjadi. Subardjo juga mengingatkan bahwa amplifikasi gempa bisa terjadi akibat lapisan tanah endapan di Jakarta.
“Jarak antara Megathrust Selat Sunda dengan Jakarta sekitar 200-250 km dan ini bisa mengakibatkan amplifikasi guncangan,” tambahnya.
Sri Widiyantoro, ahli seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menegaskan bahwa meskipun jarak megathrust dengan Jakarta tidak terlalu dekat, potensi dampaknya tetap signifikan.
“Gempa Tohoku tahun 2011 menunjukkan bahwa jarak 200-300 km masih dapat mengakibatkan guncangan yang sangat kuat,” paparnya.
Sementara itu, Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, menekankan bahwa prediksi para ahli bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan menakut-nakuti.
“Kami mohon, dari BPBD atau Pemprov DKI, mumpung belum terlanjur, dapat segera menetapkan kebijakan-kebijakan untuk mitigasinya,” jelasnya. Meskipun kepastian waktu dan kekuatan gempa masih belum dapat diprediksi, ia mendorong pemerintah dan pihak terkait untuk segera melakukan langkah mitigasi yang tepat.
BMKG juga memperingatkan potensi gempa dari Megathrust Mentawai-Siberut yang belum melepaskan energi besarnya selama berabad-abad. Menurut Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, kedua megathrust ini tinggal menunggu Waktu sebelum melepaskan energi besar.
Sebagai langkah awal mitigasi, Dwikorita meminta audit bangunan di DKI Jakarta untuk memastikan ketahanan terhadap gempa, terutama bagi gedung-gedung tinggi.
“Persoalannya adalah, kepastian kapan gempa itu terjadi, kemudian berapa kekuatannya, apakah 8,7 atau apakah hanya 6 magnitudo, belum mencapai 8,7,” tegasnya.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera menetapkan kebijakan untuk mengurangi dampak potensial dari gempa besar ini.
Dengan ancaman yang nyata di hadapan kita, kewaspadaan dan persiapan menjadi kunci utama dalam menghadapi kemungkinan gempa besar di masa depan.***
Sumber : CNN Indonesia














