Lakukan Supervisi, Dinkes Lotim Pastikan Produk “Mamato” Aman Dikonsumsi

LOTIM – PorosLombok.com || Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Timur melakukan suvervisi ke Kelompok Kegiatan (Poktan) Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) “Ngiring Maju” Desa Leming, Kecamatan Terara pada Rabu (24/9/2024).

Hal itu dilakukan guna memastikan produk “Mamato” yang dikembangkan oleh para kader Pendamping Kelompok Kerja Kampung Keluarga Berkualitas binaan UPT3AKB Kecamatan Terara itu sesuai dengan standar kesehatan.

Menurut petugas supervisor dari Dinkesa Lotim, Heru, bahwa produk yang dihasilkan Poktan UPPKA “Ngiring Maju” tersebut secara umum sudah baik, mulai dari pemilihan bahan baku, kemudian bahan-bahan tambahan seperti gula, semuanya sudah aman untuk dikonsumsi.

“Jadi kami turun untuk memastikan, yang pertama tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya,” terang Haru kepada poroslombok.com.

Selain itu, imbuh dia, pihaknya juga harus memastikan supaya lokasi dan bahan produksi yang terjaga kebersihannya. Karenanya petugas memberikan beberapa koreksi untuk diperbaiki.

Diantaranya yakni terkait pelabelan, Karen label merupakan salah satu faktor keamanan bagi konsumen. Melalui label konsumen dapat mengetahui jenis produk apa, komposisinya apa saja.

“Karna di komposisi itu bisa saja ada bahan alergi yang menyebabkan alergi. Kemudian dari sisi keamanan lainnya yaitu kadaluarsanya. Jadi, harus mencantumkan kapan kadaluarsanya,” terangnya.

Terkait kadaluarsa, dapat menggunakan metode sederhana dimana produk yang akan dipasarkan bisa diuji mandiri terlebih dahulu selama enam bulan dengan menyiapkan enam kemasan yang berbeda.

Enam kemasan itu kemudian dipantau selama enam bulan. Setiap bulan kemasan tersebut akan di cek apakah terjadi perubahan warna, rasa, bau, ataupun pertumbuhan jamur pada produk.

“Karna produk yang bahannya dari kurma atau tomat ini dia produknya masih seperti bentuk jelly. Sehingga ketika produknya betul-betul kasar airnya tidak sedikit, itu rawan ditumbuhi jamur,” paparnya.

Dikarenakan produk yang dihasilkan masih skala UMKM, maka supervisor merekomendasikan agar menggunakan greenhouse sederhana untuk meminimalisir kontaminasi fisik seperti kimia maupun biologi.

Salah satu bahaya fisik yang bisa timbul karena penjemuran di tempat terbuka itu, yakni terpapar debu. Karena itu beratapkan langit, bisa saja terkena kotoran burung dan lain sebagainya.

“Kemudian jika menggunakan greenhouse suhunya bisa lebih stabil. Karna di greenhouse perputaran udara itu terbatas. Dan di greenhouse juga bisa kita taruhkan termometer,” terangnya.

Selanjutnya, supervisor juga merekomendasikan agar produk “Mamoto” jika memungkinkan bisa dikemas dalam bentuk permen. Selain untuk menambah estetika, juga agar produk tersebut tidak lengket.

“Untuk meminimalisir itu, dan untuk meningkatkan estetikanya, maka kami merekomendasikan tiga kemasan. Yaitu kemasan primer, sekunder, dan tersier,” tandasnya.

Adapun hasil supervisi yang dilakukan, dapat dipastikan bahwa olahan Mamato yang sudah diproduksi, dinyatakan aman untuk dikonsumsi karena tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti borax, formalin, pewarna tekstil ataupun metamilgelow.

(Anas/PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU