PorosLombok.com – Ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) di Taiwan larut dalam suasana haru dan kekeluargaan saat mengikuti Pengajian Akbar di Kota Chiayi, Minggu (11/5).
Dua tokoh tanah air, TGH. Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) dan Qari Internasional Syamsuri Firdaus, hadir menebar semangat kebangsaan dan nilai-nilai Islam moderat.
Acara yang digagas oleh komunitas diaspora bersama PCNU Istimewa Taiwan itu dibanjiri jamaah dari berbagai penjuru Taiwan. Meski hujan mengguyur cukup deras, antusiasme warga tak surut. Tenda penuh sesak, namun suasana tetap khusyuk.
Syamsuri Firdaus membuka acara dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Suaranya yang merdu dan penuh penghayatan membuat suasana hening, menggetarkan hati para hadirin.
Qari asal Bima, NTB itu memang bukan nama sembarangan. Ia pernah menjuarai MTQ Internasional di Istanbul (2019) dan Kuwait (2024), serta mendapat apresiasi langsung dari Presiden Jokowi.
TGB tampil memberikan tausiyah. Mantan Gubernur NTB itu mengingatkan pentingnya menjaga adab, syariat, dan cinta tanah air.
“Islam dan kebangsaan itu satu napas. Di mana pun kita berada, jaga syariat, jaga adab, dan bawa nama baik Indonesia,” ujar TGB yang kini menjabat sebagai anggota Majelis Hukama Ulama Dunia.
Suasana makin haru saat TGB mengenang sambutan hangat warga saat dirinya tiba di Taiwan. Dalam ramah tamah di Mushalla Kota Chiayi, ia menyampaikan pesan yang menyentuh.
“Kalau saya diundang lagi, cukup siapkan tempat. Jangan repot urus hotel atau transportasi. Saya yang urus sendiri. Jangan sampai saudara-saudara saya di Taiwan jadi repot,” ujar TGB, yang langsung disambut air mata haru para jamaah.
Dalam kesempatan itu, TGB juga menyapa langsung Hardianto, seorang WNI asal Praya, Lombok Tengah yang sudah empat tahun bekerja di Taiwan dan baru saja menikah. TGB memberikan nasihat untuk membangun keluarga yang kokoh dengan nilai-nilai Islam dan tanggung jawab sosial.
Ketua PCNU Taiwan menyebut acara ini bukan sekadar pengajian biasa, melainkan ruang penguat spiritual dan kebangsaan bagi WNI di perantauan.
“Ini bukan cuma soal ceramah, tapi soal menguatkan jati diri. Kami yang jauh dari tanah air jadi ingat kampung halaman,” ujarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi swafoto. TGB dan Syamsuri dikerubungi jamaah yang ingin bersalaman. Banyak yang berharap momen seperti ini bisa rutin diadakan, sebagai pengikat ukhuwah dan semangat kebangsaan di negeri orang.
(*/PorosLombok)















