(PorosLombok.com) – Pemerintah Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, mulai serius menggarap potensi wisata agro berbasis pertanian organik.
Langkah ini ditempuh dengan menjadikan sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan sebagai bagian dari wajah asli desa yang kini dikemas menjadi objek wisata.
“Kami sedang kembangkan wisata agro tourism, yakni beras organik dan tanaman lainnya,” kata Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin, Selasa (22/7).
Nasipudin menjelaskan bahwa konsep wisata yang dikembangkan harus berpijak pada realitas dan kearifan lokal masyarakat.
Menurutnya, membangun pariwisata tidak hanya soal keindahan alam, tetapi juga soal mengangkat nilai tradisi yang telah melekat kuat.
“Kenapa kami memilih itu? Karena potensi ini sudah ada sejak lama dan sesuai dengan karakter masyarakat,” ungkapnya.
Desa Jeruk Manis sendiri dikenal sebagai kawasan agraris yang sudah lama menggantungkan hidup dari pertanian, peternakan, dan perkebunan.
Sektor-sektor ini dulunya menjadi tumpuan warga sebelum pariwisata berbasis alam dikenal luas.
“Petani, peternak, dan pekebun adalah wajah asli masyarakat Jeruk Manis,” ujarnya.
Pihak desa berusaha agar pariwisata tidak hanya menjual hasil, tapi juga mengangkat proses bertani sebagai bagian dari atraksi wisata.
Wisatawan diajak menyaksikan langsung bagaimana sistem pertanian alami dilakukan warga.
“Wisata ini kami jadikan pasar. Bukan cuma hasilnya yang dijual, tapi juga prosesnya,” tuturnya.
Nasipudin mengakui bahwa hasil pertanian mereka tak bisa bersaing dari segi kuantitas dengan desa lain. Namun, mereka melihat peluang besar jika fokus pada kualitas dengan kembali ke sistem pertanian alami.
“Kalau hanya kuantitas, kami pasti kalah. Produksi kami tidak sampai satu ton,” jelasnya.
Dengan mengedepankan kualitas, desa ingin menjadikan produk organik sebagai nilai jual yang unik.
Sistem pertanian kolosal dan bebas bahan kimia mulai dihidupkan kembali demi menonjolkan keaslian dan nilai kesehatan.
“Kami pilih kualitas, kembali ke sistem pertanian kolosal seperti orang tua kita dulu,” kata Nasipudin.
Desa juga mendorong warganya membuka warung lesehan yang menyajikan makanan berbahan tanaman organik. Hal itu dilakukan agar konsep makanan sehat menjadi identitas kuat Desa Jeruk Manis.
“Kalau orang ingin makan sehat, Desa Jeruk Manis harus jadi tempat yang mereka ingat,” katanya.
Untuk memperkenalkan hasil produk lokal, desa rutin menggelar bazar setiap 17 Agustus. Bazar ini diisi dengan pameran jeruk, umbi-umbian, dan berbagai hasil ladang warga yang ditanam secara organik.
“Kami manfaatkan 17 Agustus sebagai pesta rakyat. Kami tampilkan hasil pertanian dan perkebunan organik,” pungkas Nasipudin.
(Arul/PorosLombok)















