(PorosLombok.com) – Puluhan mahasiswa Pendidikan Fisika dan IPA FMIPA Universitas Hamzanwadi menjalani kuliah lapangan di Stasiun BMKG Mataram, Rabu (24/7).
Mereka belajar langsung dari para ahli tentang cara kerja BMKG dalam membaca gejala alam dan fenomena langit.
Kuliah lapangan ini merupakan bagian dari metode pembelajaran berbasis pengalaman nyata (experiential learning). Mahasiswa diajak mendalami langsung ilmu-ilmu yang biasanya hanya mereka pelajari secara teoritis di ruang kuliah.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menghafal teori, tapi juga memahami cara kerja dunia nyata,” ujar dosen pendamping, Badrul Wajdi, M.Pd.
Peserta kuliah lapangan terdiri dari mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Geofisika, Meteorologi, Klimatologi, Astronomi, dan Ilmu Falak. Semua materi yang diberikan BMKG sangat relevan dengan bidang kajian mereka.
“Ini cara efektif agar mereka tidak kaget saat harus terjun ke lapangan sebagai guru atau ilmuwan,” tambah Badrul.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami berbagai fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, likuifaksi, hingga perubahan iklim. Penjelasan dilakukan melalui simulasi langsung dan pemaparan data dari pusat kendali BMKG.
Yang paling mencuri perhatian adalah sesi pengamatan hilal yang diikuti mahasiswa Pendidikan IPA. Mereka mendapat pelatihan langsung menggunakan teleskop dan teropong sebagai bagian dari pembelajaran Ilmu Falak.
“Ini bukan sekadar latihan, tapi bekal nyata untuk berkontribusi di tengah masyarakat,” tegas Badrul.
BMKG Mataram menyambut hangat kunjungan tersebut. Kepala Stasiun BMKG, Sumawan, S.T., M.M., secara langsung memberikan penjelasan tentang fungsi dan peran lembaga yang dipimpinnya, terutama dalam mitigasi bencana di NTB.
“Semakin banyak yang paham peran BMKG, semakin cepat pula kita bisa mencegah risiko bencana,” kata Sumawan saat menerima mahasiswa.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan sistem pemantauan cuaca dan gempa yang dimiliki BMKG. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana data dianalisis hingga menjadi informasi yang siap disampaikan ke publik.
“Kami baru tahu kalau kerja BMKG sedetail dan sekompleks ini, ternyata sangat penting untuk keselamatan,” ujar salah satu mahasiswa peserta.
Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga mengasah kemampuan observasi, berpikir analitis, dan pemahaman teknologi instrumen ilmiah. Semua keterampilan ini sangat penting bagi mereka sebagai calon pendidik masa depan.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa diharapkan mampu menanamkan literasi sains di tengah masyarakat dan turut berperan dalam pendidikan kebencanaan. Mereka juga dibekali dengan kecakapan yang langsung bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.
(*/PorosLombok)














