Kisah Burhan, Pengusaha Tempe Masbagik yang Kebanjiran Order Berkat Program Makan Bergizi Gratis

"Program Makan Bergizi Gratis mengubah dapur kecil di Masbagik jadi mesin ekonomi desa, menggandakan produksi tahu-tempe dan mengangkat napas UMKM lokal"

(PorosLombok.com) – Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti menjadi stimulan kuat bagi geliat ekonomi kerakyatan di tingkat pedesaan, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat.

​Salah satu sosok yang merasakan langsung dampak positif tersebut adalah Burhan, seorang pengusaha tahu dan tempe yang berbasis di Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur.

​Sejak kebijakan ini bergulir, unit usaha milik Burhan dipercaya untuk memenuhi kebutuhan protein nabati di lima titik lokasi MBG yang tersebar di wilayah timur.

​Keterlibatan dalam rantai pasok program strategis pemerintah ini seketika mengubah ritme kerja di rumah produksinya menjadi jauh lebih padat dan produktif.

​Burhan mengungkapkan bahwa kapasitas operasional usahanya saat ini mengalami lonjakan drastis hingga menyentuh angka 50 persen lebih tinggi dari biasanya.

​”Wah, kalau persentase mungkin sekitar 50 persenan lebih. Lumayan, soalnya dua kali lipat kita memproduksi,” ujar Burhan menjelaskan perkembangan usahanya Rabu (21/01/2026).

​Peningkatan volume permintaan tersebut berbanding lurus dengan jumlah bahan baku yang harus diolah setiap harinya oleh para pekerja di UMKM Lombok Timur.

​Burhan menyebutkan bahwa dapur produksinya kini mampu menghabiskan sedikitnya 4 kuintal kedelai dalam satu hari kerja untuk memenuhi target pesanan.

​Tingginya intensitas produksi ini rupanya justru mendatangkan keuntungan dari sisi efisiensi logistik pengadaan bahan baku utama bagi para perajin tempe.

​Kini, ia rutin menyetok kedelai sebanyak 12 ton atau setara kapasitas satu truk sekaligus guna menghindari beban biaya pengiriman yang tinggi.

​”Kalau pesannya kurang dari itu, kena ongkir. Makanya sekali pesan satu truk biar tidak kena ongkir,” tambah Burhan secara detail mengenai manajemen stok kedelai.

​Langkah strategis ini terbukti efektif menekan biaya operasional di tengah melonjaknya kapasitas produksi harian di sentra industri lokal tersebut.

​Bagi Burhan, program ini bukan sekadar kebijakan pusat, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan yang nyata bagi pengusaha kecil di daerah.

​Dampak yang dirasakan tidak hanya sebatas penambahan omzet harian, tetapi juga peningkatan kapasitas daya saing unit usaha secara berkelanjutan.

​Ia berharap program ini terus konsisten berjalan agar ekosistem industri pangan lokal di wilayah Masbagik dan sekitarnya semakin kuat dan mandiri.

(Arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU