(PorosLombok.com)–Lonjakan harga cabai merah dan aneka kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Lombok Timur mulai meresahkan warga. Fenomena kenaikan harga pangan ini muncul secara drastis tepat pada momentum awal Ramadan tahun 2026.
Komoditas cabai merah kini menyentuh angka fantastis Rp 200 ribu per kilogram akibat tingginya permintaan pasar. Nilai tersebut melonjak tajam daripada hari biasa dan menekan daya beli masyarakat di wilayah tersebut secara signifikan.
”Kenaikan harga cabai merah ini memang fluktuatif, apalagi momen puasa begini merupakan hal wajar setiap tahun,” kata Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, Sabtu (21/02).
Selaras dengan hal tersebut, pemerintah daerah menilai tekanan pasar saat bulan suci memicu pergerakan angka secara cepat. Meski demikian, Hadi menjamin ketersediaan stok pangan tetap aman serta mencukupi kebutuhan masyarakat selama Ramadan.
Namun di sisi lain, kondisi ini membuat pedagang sayur bernama Siti Aminah mengeluhkan harga barang yang naik drastis seperti banjir bandang. Pernyataan tersebut menggambarkan keterkejutan pelaku usaha kecil atas situasi di lapangan saat ini.
Dampak Kenaikan Harga Pangan bagi Pedagang dan Warga
Penjual asal Desa Rumbuk tersebut merasa terpukul karena modal untuk membeli stok bumbu dapur dari pengepul kini membengkak berkali-kali lipat. Siti menilai kenaikan kali ini jauh lebih tinggi jika membandingkannya dengan periode Ramadan tahun lalu.
”Coba lihat ini pak, cabai merah segini saja harganya sudah Rp 25 ribu,” katanya.
Selain bumbu pedas, harga bawang merah juga ikut terkerek naik hingga mencapai level Rp 45 ribu setiap kilonya. Situasi ini berdampak langsung pada operasional rumah tangga yang mengandalkan bahan tersebut sebagai penyedap masakan harian.
Siti menjelaskan bahwa kalau harga cabai sudah tinggi pasti bahan pokok lain ikut naik karena semuanya saling berkaitan. Tren kenaikan harga ini bahkan menyeret komoditas lain seperti sayuran kol, kelapa, kacang-kacangan, hingga tauge di pasar.
Meskipun demikian, kondisi pasar saat ini tetap kondusif meski aktivitas tawar-menawar antara penjual dan pembeli terdengar kian intens. Pantauan di lokasi menunjukkan belum ada kelangkaan barang meskipun harga sejumlah komoditas berada di titik tertinggi.*















