PorosLombok.com – yang biasanya tenang kini menyisakan aroma tanah basah dan sisa material yang terbawa arus pasang yang belum reda di Dusun Sungkun. Di balik rimbunnya vegetasi, jejak air terlihat pada dinding rumah yang sempat terendam pada (16/03/2026).
Langit perlahan membiru saat warga mulai menyapu sisa lumpur dari lantai rumah yang sempat ditinggalkan. Selama masa sulit tersebut, kehidupan di tenda darurat menjadi satu-satunya pilihan bagi penduduk demi menghindari ancaman banjir yang lama.
Aktivitas alam ekstrem mengubah bentang lahan di wilayah ini, memaksa manusia beradaptasi dengan ritme hujan tak menentu. Bagi warga Sungkun, menetap di bawah terpal plastik selama berbulan-bulan di tengah cuaca buruk adalah ujian ketahanan fisik.
Lukman, warga setempat, tampak sibuk memilah barang miliknya yang masih bisa diselamatkan dari timbunan sisa banjir. Dengan tangan berlumur tanah, ia membersihkan perkakas rumah tangga yang sempat hanyut namun ditemukan kembali di sekitar rawa.
“Kami merasa sangat terganggu dan hidup susah selama di pengungsian karena hujan terus-menerus turun tanpa henti,” kenang Lukman sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang lusuh.
Kehadiran sosok Kerry Black, pemilik Heaven on the Planet, membawa angin segar di tengah keputusasaan warga. Kerry datang langsung ke pelosok dusun, menyusuri jalanan setapak yang masih becek untuk melihat kondisi ekosistem dan sosial terdampak.
Ia berinteraksi secara mendalam dengan penduduk, mendengarkan keluh kesah mereka yang kehilangan harta benda akibat diterjang arus deras. Langkah ini diambil untuk memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat pesisir agar bisa mandiri kembali.
Hasil pengamatan langsung membawa pada sebuah kesimpulan bahwa bantuan tunai menjadi instrumen paling krusial. Kebutuhan akan perlengkapan rumah tangga yang hilang menjadi prioritas utama bagi para kepala keluarga yang baru kembali dari pengungsian.
“Saya tinggal di sini dalam kondisi sempurna dengan makanan restoran! Kontras di Sungkun membuat terpanggil ingin membantu teman-teman yang sedang kesulitan di sana,” kata Kerry dengan nada bicara yang rendah namun penuh empati.
Kepedulian tersebut diwujudkan melalui pemberian bantuan dana kepada delapan keluarga yang dianggap paling terdampak bencana. Uang sejumlah lima juta rupiah diserahkan kepada masing-masing keluarga sebagai modal awal untuk memperbaiki hunian mereka.
Wajah para penerima manfaat seketika berubah, memancarkan binar kebahagiaan yang selama beberapa waktu ini padam. Ada rasa lega yang luar biasa saat mereka menerima dukungan yang tulus di tengah upaya membangun kembali puing kehidupan yang hancur.
Lukman menyatakan bahwa dukungan semacam ini sangat berarti bagi warga yang tidak memiliki tabungan cadangan saat bencana melanda. Ia merasa bantuan tersebut adalah jembatan untuk menyambung kembali asa yang sempat terputus oleh rendaman air banjir.
“Warga sekitar mengucapkan ribuan terima kasih kepada Kerry Black dan Heaven on the Planet atas bantuannya,” pungkas Lukman sambil memandang ke arah rumahnya yang mulai dibersihkan.
Secara ekologis, wilayah Sungkun memiliki karakteristik unik yang dipengaruhi pasang surut air laut dan intensitas curah hujan. Ketidakseimbangan lingkungan di hulu berdampak langsung pada masyarakat bawah yang bergantung pada stabilitas alam pesisir.
Kearifan lokal dalam menghadapi air sebenarnya sudah lama ada, namun intensitas fenomena alam belakangan ini terasa lebih berat. Hal ini menuntut adanya kolaborasi antara sektor swasta dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan ekosistem yang rapuh.
Kerry melihat bahwa bantuan finansial hanyalah langkah awal dari proses pemulihan jangka panjang yang harus dilakukan warga. Ia percaya dengan sedikit dorongan, warga mampu menata kembali lingkungan tempat tinggal mereka agar lebih tangguh ke depan.
Interaksi manusia dan alam di Sungkun menunjukkan kerentanan komunitas pesisir terhadap perubahan iklim global saat ini. Dukungan dari pihak luar menjadi katalisator bagi warga untuk tetap bertahan dan menjaga tanah kelahiran dari degradasi lingkungan.
Kegiatan pemberian bantuan ini dilakukan dengan cara sangat personal, menjauh dari kesan formalitas birokrasi yang sering kaku. Pendekatan ini membuat hubungan antara pihak swasta dan masyarakat lokal menjadi lebih harmonis serta saling mendukung.
Masyarakat yang tadinya hanya merenung kini mulai bergotong royong memperbaiki atap dan dinding yang jebol. Suasana dusun yang tadinya sunyi dan mencekam perlahan kembali riuh dengan suara palu dan tawa kecil anak-anak yang bermain di halaman rumah.
Pentingnya menjaga tutupan lahan di sekitar dusun juga menjadi bahan pembicaraan hangat di antara warga saat beristirahat. Mereka sadar bahwa memulihkan lingkungan adalah investasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali dengan dampak merusak.
Setiap lembar uang yang diterima warga dialokasikan untuk membeli perlengkapan dapur, kasur, dan alat pertukangan sederhana. Pemulihan ekonomi mikro di tingkat rumah tangga diharapkan memicu perputaran ekonomi yang lebih luas di tingkat desa pesisir.
Relasi yang terjalin antara industri pariwisata dan konservasi masyarakat menjadi model menarik untuk diterapkan di wilayah lain. Bahwa keuntungan dari keindahan alam semestinya juga dirasakan oleh mereka yang menjadi penjaga garda depan ekosistem.
Sinar matahari sore yang hangat menyentuh permukaan air yang mulai tenang di sekitar Dusun Sungkun saat ini. Keindahan ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki dua sisi yang harus dihormati dan dijaga secara seimbang oleh setiap insan yang tinggal.
Langkah kaki Kerry meninggalkan dusun diiringi lambaian tangan warga yang penuh rasa syukur atas kepedulian yang diberikan. Harapan baru kini tertanam di tanah Sungkun, tumbuh bersama semangat warga untuk kembali bangkit menjaga harmoni alamnya.*
















