PorosLombok.com – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur kini menantang para peternak lokal untuk memunculkan sapi dengan bobot fantastis guna melampaui rekor kandidat kurban bantuan Presiden saat ini.
Meskipun satu ekor sapi Limosin seberat 930 kilogram dari Desa Tirtanadi sudah diusulkan, otoritas peternakan daerah masih membuka ruang bagi adanya temuan sapi yang lebih masif. Penjaringan ini menjadi ajang pembuktian kualitas ternak di tingkat kabupaten.
“Harapan kita sebenarnya ada sapi yang beratnya lebih satu ton, tolong segera ditimbang di pasar hewan,” ujar Kepala Disnakkeswan Lombok Timur Haji Mashur, Rabu (29/4/2026).
Mashur menegaskan bahwa hingga detik ini pemerintah pusat belum menetapkan batasan minimal berat badan yang kaku. Hal ini memberikan keleluasaan bagi daerah untuk menyodorkan aset ternak terbaik yang dimiliki masyarakat tanpa sekat jenis ras.
Potensi sapi lokal untuk bersaing dengan jenis impor seperti Limosin tetap terbuka lebar asalkan memiliki manajemen pakan yang unggul. Pihak dinas siap memfasilitasi proses penimbangan dan verifikasi jika ditemukan sapi dengan tonase yang lebih besar.
“Pusat itu tidak mencantumkan berat minimal, mereka cuma minta sapi terberat yang ada di masing-masing kabupaten,” jelasnya.
Ketiadaan syarat minimal dari Jakarta dipandang sebagai peluang emas bagi peternak rakyat untuk menunjukkan hasil budidaya mereka. Sapi jenis Limosin milik Pak Heru di Tirtanadi saat ini menjadi standar tertinggi yang harus dilampaui peternak lain.
Data berat badan sapi yang diusulkan saat ini merupakan hasil timbangan satu bulan lalu dan terus dipantau kesehatannya secara berkala. Tim medis hewan memastikan calon kurban tersebut harus dalam kondisi prima dan bebas cacat fisik.
“Sapi Limosin asal Tirtanadi itu adalah milik salah satu staf kita yang beratnya mencapai 930 kilogram,” katanya.
Dinas Peternakan menginginkan agar sapi bantuan presiden tahun ini benar-benar merepresentasikan keunggulan sektor peternakan Lombok Timur. Pemilihan sapi terberat di masing-masing kabupaten menjadi cara pusat untuk mengapresiasi kerja keras peternak daerah.
Informasi mengenai kriteria final masih terus dinanti dari pemerintah pusat melalui koordinasi intensif tingkat provinsi. Kepastian mengenai sapi mana yang akan dibeli negara bergantung pada hasil perbandingan kualitas antar wilayah di NTB.
“Syaratnya memang tidak ditunjukkan jenisnya secara spesifik, yang penting pusat minta sapi yang paling berat di lapangan,” pungkasnya.*















