PorosLombok.com – menyuguhkan kabut tipis yang menyelimuti lembah, di mana aroma tanah basah berpadu dengan udara pegunungan yang menusuk tulang. Di bawah bayang Rinjani, bentang alam ini menjadi ruang kontemplasi manusia dan alam Rabu (01/04/2026).
Lembah yang dikelilingi perbukitan purba ini menjadi saksi perubahan gaya hidup masyarakat dalam menikmati biodiversitas. Wisatawan kini lebih memilih tinggal lebih lama di kaki gunung guna meresapi ketenangan ekosistem yang masih sangat asri.
Di pinggir jalan lingkar, sebuah area terbuka menjadi magnet baru bagi para pencari kedamaian. Lokasi ini berdiri kokoh tepat di bawah kaki bukit, menawarkan panorama hamparan sawah yang tersusun rapi layaknya permadani hijau menenangkan mata.
Resil, sang pemilik lahan, menceritakan bahwa inisiatif ini muncul dari pengamatannya selama menjadi pemandu di kawasan konservasi. Ia melihat keinginan besar pelancong untuk berada di alam tanpa kehilangan kenyamanan aksesibilitas mereka.
”Awalnya saya pemandu wisata, sering keliling dan mendengar keluhan tamu. Kebetulan saya punya lahan nganggur yang dulu hanya ditanami kopi dan jeruk,” ujar Resil sambil menunjukkan deretan pohon yang masih terjaga di sela-sela perkemahan.
Ia menjelaskan bahwa dirinya kemudian berinisiatif membangun tempat berkemah yang mampu mengakomodasi kebutuhan pecinta rumah berjalan. Pria ini menata lahan dengan hati-hati agar fungsi ekologis dan estetika alam di kaki bukit tetap terjaga.
Komitmen Ekologi di Tengah Pesona Glamping
Sejak saat itu, persiapan panjang dilakukan guna memastikan fasilitas yang dibangun tidak merusak bentang alam asli. Penataan dilakukan dengan memperhatikan aliran air dan posisi pohon endemik yang sudah tumbuh subur di lahan perkebunan warga.
Pasca kejadian cuaca ekstrem beberapa waktu lalu, lokasi ini sempat ditutup demi keamanan pengunjung dan pemulihan vegetasi. Namun, pembukaan kembali tempat ini langsung disambut antusiasme luar biasa masyarakat yang rindu suasana pegunungan.
”Malamnya saya posting buka, besoknya langsung hampir full booking. Tiga malam terakhir ini benar-benar penuh terus,” tutur Resil dengan rona bahagia sembari merapikan beberapa perlengkapan tenda yang baru saja digunakan oleh tamu tersebut.
Ia menambahkan bahwa pendapatan yang diraih melampaui ekspektasi, menunjukkan besarnya kerinduan warga kembali ke alam. Fenomena ini menjadi sinyal positif bagi kebangkitan ekonomi lokal yang berbasis pada pemanfaatan jasa lingkungan berkelanjutan.
Salah satu daya tarik yang ditonjolkan adalah konsep berkemah mewah yang memadukan fasilitas modern dengan lanskap liar. Pengunjung tetap bisa menikmati dinginnya malam tanpa merasa terasing, menciptakan jembatan antara gaya hidup urban dan alam.
”Tamu sekarang seleranya makin bergaya, mereka cari yang mewah. Meskipun harganya lebih mahal dari hotel, mereka rela bayar karena pemandangannya langsung Gunung Rinjani,” papar Resil seraya menunjuk ke arah puncak yang berawan.
Fasilitas yang disediakan mencakup tempat tidur hingga peralatan memasak di ruang terbuka, memungkinkan interaksi intim keluarga. Bagi banyak orang, momen ini menjadi waktu tepat memperkenalkan nilai pelestarian lingkungan kepada generasi muda.
Azis, seorang pengunjung dari luar pulau, mengaku sengaja datang untuk menjauhkan anak-anaknya dari ketergantungan teknologi digital. Ia merasa bahwa udara bersih di lembah merupakan kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di kota besar.
”Tujuan saya ke sini memang untuk aktivitas luar ruangan dan memberikan pengalaman buat anak-anak agar lepas dari HP,” ungkap Azis sembari mengawasi buah hatinya yang sedang asyik bermain di padang rumput yang masih basah oleh embun pagi.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lokasi juga diakui oleh pengunjung setia yang sudah berulang kali datang. Keberadaan fasilitas penunjang yang tertata dianggap sebagai bentuk tanggung jawab pengelola dalam menjaga ekosistem pegunungan.
”Pemandangannya bagus sekali, kelihatan Rinjani, bukit, dan hamparan sawah di bawah sana,” kata Baharudin dengan nada kagum sambil menikmati segelas kopi hangat di depan tendanya yang menghadap langsung ke arah perbukitan hijau yang rimbun.
Langkah inovasi terus dikembangkan, termasuk rencana memperkenalkan aktivitas yang melibatkan kearifan lokal. Upaya ini diharapkan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga masa depan lembah agar tetap lestari bagi generasi mendatang.*












