PorosLombok.com – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Nusa Tenggara Barat memperkuat langkah strategis menekan pengangguran melalui program pemagangan ke luar negeri.
Pemerintah daerah melakukan kunjungan evaluasi ke LPK ARK Jinzai Solusi Group di Lombok Tengah guna memastikan kesiapan calon tenaga kerja. Fokus utama koordinasi ini menyasar pengisian peluang kerja besar di pasar Jepang.
“Kami hadir untuk memperkuat persiapan adik-adik agar siap mengikuti program pemagangan masa depan,” ujar Kabid Lattas Disnakertrans NTB, I Wayan Sunanta.Kamis (03/04/2026).
Selaras dengan hal itu, Sunanta menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah mencanangkan pemanfaatan ruang kerja yang dibuka lebar oleh pemerintah Jepang. Kesiapan mental dan fisik menjadi indikator utama sebelum proses pemberangkatan dilakukan.
“Terdapat banyak ruang yang disiapkan oleh Jepang untuk dapat kita isi secara maksimal,” katanya.
Lebih lanjut, Jepang saat ini dilaporkan menyediakan sekitar 639.000 lowongan kerja bagi tenaga kerja asing dari berbagai negara. Peluang emas tersebut menuntut standar kompetensi tinggi agar SDM lokal mampu bersaing secara global.
Disnakertrans menekankan penguasaan bahasa dan keterampilan teknis sebagai kunci utama keberhasilan para peserta di luar negeri. Kurikulum pelatihan di lembaga mitra harus relevan dengan kebutuhan industri di Negeri Sakura tersebut.
“Diperlukan penyiapan SDM yang terutama sekali terkait dengan bahasa dan kompetensi teknis,” ujarnya.
Selain aspek teknis, para peserta juga dibekali dengan pemahaman budaya lokal untuk dipromosikan selama menetap di sana. Hal ini bertujuan menjadikan tenaga kerja sebagai duta pariwisata yang mampu menarik minat warga asing ke daerah.
“Budaya kita yang dipublikasikan bisa menjadi daya tarik masyarakat Jepang untuk mendorong sektor pariwisata,” jelasnya.
Sesuai hasil evaluasi, pemerintah menetapkan target ambisius pengiriman minimal 500 tenaga kerja untuk tahun 2026 melalui skema formal. Sinergi dengan lembaga pelatihan swasta diperketat guna menjamin kualitas output yang dihasilkan setiap angkatan.
“Harapannya minimal 500 orang dalam satu tahun itu agar bisa dicapai oleh LPK ini,” katanya.
Secara filosofis, program ini tidak hanya berorientasi pada perbaikan ekonomi keluarga semata bagi para peserta. Pemerintah berharap adanya perubahan pola pikir atau mindset yang lebih maju sekembalinya mereka ke tanah air.
Sunanta menginginkan para pahlawan devisa ini membawa etos kerja kedisiplinan tinggi khas masyarakat Jepang. Mereka diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru yang mandiri di desa asal masing-masing setelah kontrak berakhir.
“Adik-adik yang kembali bisa menjadi pionir yang memberikan motivasi kepada pemuda lainnya di NTB,” ujarnya.
Dampak jangka panjang, kemunculan wirausahawan baru dari mantan pekerja migran diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan lokal. Jalur kerja formal ini menjadi solusi konkret dalam mengikis angka kemiskinan secara bertahap di wilayah tersebut.
“Harapannya mereka dapat menjadi wirausahawan baru yang menciptakan lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Optimisme LPK ARK Jinzai Lampaui Target Pengiriman Tenaga Kerja
Di tempat yang sama, Direktur Utama PT ARK Jinzai Solusi Group, Jamaluddin merespons positif tantangan besar dari pemerintah tersebut. Pihaknya menyatakan kesiapan penuh untuk mengakomodasi tingginya minat masyarakat bekerja ke luar negeri.
Jamaluddin menegaskan bahwa perusahaannya tidak hanya sekadar menyanggupi target 500 orang, tetapi memasang angka yang lebih berani. Infrastruktur pelatihan dan jaringan mitra di luar negeri diklaim sudah sangat mumpuni.
“Targetnya 1.000 orang itu rencana maksimal mungkin yang kita inginkan tahun ini,” ujar Jamaluddin.
Optimisme tersebut, didasarkan pada rekam jejak perusahaan yang sebelumnya telah berhasil memberangkatkan ratusan peserta secara prosedural. Pengalaman lapangan menjadi modal utama dalam mengelola manajemen keberangkatan yang aman dan terpercaya.
Pihak perusahaan menjamin seluruh proses rekrutmen dilakukan secara transparan tanpa ada pungutan liar yang merugikan calon pekerja. Kepercayaan publik menjadi aset berharga dalam menjalankan roda organisasi pelatihan kerja internasional ini.
“Insyaallah sanggup, karena kemarin saja kita sudah berhasil mengirimkan 500 orang,” katanya.
Meski demikian, Jamaluddin menekankan bahwa pencapaian angka seribu orang memerlukan proses seleksi yang sangat ketat. Fokus utama tetap pada kualitas, bukan sekadar kuantitas, agar nama baik daerah tetap terjaga di mata pemberi kerja.
Penguasaan bahasa Jepang tingkat dasar menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar dalam skema Specified Skilled Worker (SSW). Pelatihan intensif dilakukan setiap hari untuk memastikan kemampuan komunikasi peserta berada pada level aman.
“Ada pelatihan tentunya kita pilih yang berkemampuan, baik bahasa maupun keterampilan lainnya,” jelasnya.
Sebagai langkah taktis, kolaborasi dengan berbagai pihak sekolah menengah kejuruan akan semakin diintensifkan mulai bulan depan. Sosialisasi masif diperlukan agar informasi peluang kerja luar negeri sampai ke telinga para lulusan baru.
Pemerintah dan pihak swasta sepakat untuk turun langsung ke lapangan guna memberikan edukasi mengenai jalur resmi bekerja ke Jepang. Hal ini penting untuk membentengi masyarakat dari iming-iming calo tenaga kerja ilegal yang berbahaya.
“Intinya kita harus berusaha bersama-sama turun melakukan sosialisasi ke SMK melalui tim Disnaker,” pungkasnya.
















