PorosLombok.com – Aparat kepolisian mengharapkan seluruh lapisan warga dapat bekerja sama secara aktif guna memastikan situasi tetap kondusif menjelang acara puncak turnamen adat Perisean di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Minggu (24/5/2026).
Langkah antisipasi ini berfokus pada kesadaran mandiri publik mengingat momentum kebudayaan tersebut biasanya menyedot perhatian ribuan penonton dari berbagai pelosok kampung. Kesediaan massa untuk tertib menjadi kunci utama mitigasi potensi kerawanan di lapangan.
“Jangan sampai ajang ini dapat memicu pertikaian dan sebagainya,” ujar Kapolsek Sikur A.KP Rosyadi.
Iptu Rosyadi mendesak seluruh panitia, petarung atau pepadu, serta suporter untuk mematuhi aturan hukum. Komitmen bersama ini bertujuan menjaga stabilitas keamanan selama penutupan kegiatan berlangsung.
Ia menegaskan bahwa esensi utama kesenian ini adalah melestarikan tradisi luhur suku Sasak, bukan memicu permusuhan. Nilai sportivitas wajib dijunjung tinggi oleh semua pihak di dalam arena.
“Aparat tidak ingin budaya ternodai oleh oknum tidak bertanggung jawab,” katanya.
Kapolsek mengingatkan penonton agar menahan diri dan tidak membawa emosi pertandingan keluar garis pembatas. Kontrol diri menjadi kunci utama agar situasi di lapangan tetap kondusif.
Kepolisian turut memberikan apresiasi tinggi terhadap kerja keras panitia pelaksana hingga mencapai tahapan ini. Kendati demikian, koordinasi taktis di lapangan tetap ditingkatkan demi kenyamanan publik.
“Kami juga meminta juga mayarakat jaga arus lalu lintas jangan sampai mengganggu pengguna Jalan,” ujarnya.
Seni tari perang tradisional menggunakan rotan dan perisai kulit ini sejatinya memiliki aturan adat sangat ketat. Para petarung diwajibkan saling berangkulan serta memaafkan begitu peluit panjang ditiup.
“Tensi tinggi di lapangan tidak boleh berbuntut menjadi konflik antardesa,” pungkasnya.*
















