PorosLombok.com – Pemerintah Kecamatan Sikur resmi menutup turnamen budaya yang mempertemukan para petarung tradisi di Desa Loyok, Kabupaten Lombok Timur, Minggu (24/5/2026).
Agenda ini berhasil menyedot perhatian ribuan pasang mata, termasuk pelancong internasional yang memadati area hingga hari terakhir. Kesadaran penonton menjaga ketertiban menjadi kunci utama kesuksesan festival tahunan tersebut.
”Berkat kerja sama kita semua, event ini dapat berjalan dengan aman,” ujar Camat Sikur H. Sapi’i.
H. Sapi’i mengapresiasi sinergi taktis antara kepolisian, TNI, serta Satpol PP dalam mengawal keamanan di sekitar panggung pertunjukan. Kolaborasi lintas sektor ini mampu meredam potensi gesekan antarpendukung selama sebelas hari.
Manajemen pengamanan yang humanis terbukti efektif menciptakan atmosfer yang nyaman bagi para pengunjung. Pihak eksekutif menilai kedewasaan sikap masyarakat menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi daerah.
”Peresean adalah aset budaya adiluhung identitas jati diri masyarakat Sasak,” katanya.
Camat menegaskan bahwa pelestarian seni tari perang menggunakan rotan ini memikul misi ideologis yang besar. Setiap generasi muda bertanggung jawab penuh merawat warisan leluhur agar tidak tergerus arus modernisasi.
Pemerintah daerah juga berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai kalender pariwisata unggulan guna mendongkrak ekonomi kreatif. Sektor usaha mikro di sekitar lokasi dilaporkan mengalami lonjakan omzet yang signifikan.
”Mudah-mudahan event serupa berikutnya dapat dilaksanakan kembali,” jelasnya.
Ia berharap evaluasi menyeluruh dari kepanitiaan saat ini bisa mengoptimalkan kualitas teknis pada kalender kompetisi mendatang. Persiapan yang lebih matang diyakini mampu menarik sponsor skala nasional.
Langkah pembenahan fasilitas tribun penonton serta area parkir akan menjadi prioritas kerja jangka pendek. Pembenahan infrastruktur penunjang ini krusial demi kenyamanan publik.*
















