Bantal Gapuk, Jajanan Khas Lombok Yang Tak Mati Meski Dihantam Pandemi

LOTIM | Poroslombok.com –

Pulau Lombok dikenal dengan panorama alamnya yang indah nan eksotis. Selain itu, pulau yang dikenal dengan julukan seribu masjid ini juga memiliki beragam jajanan khas.

Beberapa diantaranya adalah serabi, celilong, nagasari, gegodoh, keciput, bantal gapuk, poteng jaje tujak dan masih banyak yang lainnya. Namun, kue bantal gapuk menjadi kue yang melegenda di daerah ini.

Jenis kue yang satu ini menjadi berbeda dengan kue yang lainnya. Namanya yang unik serta rasanya yang khas membuat siapapun yang mencobanya akan ketagihan.

Ya, mungkin karna bentuknya yang mirip seperti bantal tidur yang diikat dengan tali berbentuk kubus sehingga dinamakan bantal.

Selain itu, jenis kue ini bisa dijumpai setiap hari di sebuah desa di wilayah Lombok Timur yakni Desa Gapuk, Kecamatan Suralaga. Meski bisa dijumpai di pasar namun bantal gapuk dikenal memiliki citarasa yang khas dan tetap mempertahankan originalitasnya.

Letak Desa Gapuk yang strategis yang berada di jalur utama jalan raya mataram menuju pelabuhan labuan lombok, atau tepatnya di jalan raya Anjani-Lenek membuat para wisatawan baik lokal maupun mancanegara akan mudah menjumpai Desa Gapuk.

Soal harga tidak perlu khawatir karna relatif cukup murah dan tidak menguras kantong wisatawan yang ingin membeli sebagai oleh-oleh. Satu ikatnya (isi 13 buah bantal) dibanderol dengan harga 20 Ribu saja.

Sebagai pengetahuan, bahan untuk membuat Kue Bantal Gapuk ini terdiri dari beras ketan, kelapa muda yang diparut, daun aren atau janur (bombong/sasak), tali, buah pisang atau kacang merah untuk isi.

Banyaknya permintaan oleh masyarakat Lombok terhadap kue ini yang cukup tinggi dan permintaan wisatawan yang berlibur ke Pulau Lombok hampir setiap hari sebagai oleh-oleh (sebelum pandemi), sehingga kue ini diproduksi pada hari-hari biasa dan hampir setiap hari dijajakan di Desa Gapuk.

Namun, terpaan pandemi covid-19 yang melanda dunia beberapa tahun ini berdampak pada sepinya pembeli. Demikian dituturkan, Inaq Diu, salah satu pedagang Bantal Gapuk saat ditemui poroslombok, Sabtu (26/02).

Dia berkisah, menjadi pengusaha bantal digelutinya sejak 20 tahun silam. Rentan waktu puluhan tahun tentunya terdapat perbedaan yang mencolok dari segi omzet pendapatan.

“Kalo dulu sehari bisa kita dapat jualan sampai 600 ribu. Kalo sekarang sepi. Kadang kita dapat 50 ribu, paling rame kita dapat jualan 200 ribu,” tuturnya.

Dengan omzet penjualan yang rata-rata hanya 50-100 ribu, terang Inaq Diu, dirinya hanya mendapatkan keuntungan sekedar buat belanja sekolah anak-anaknya.

Karnanya, dia berharap, agar ada perhatian dari pemerintah untuk dapat membantu usahanya agar tetap bisa bertahan demi biaya hidup dan sekolah anak-anaknya.

“Kita berharap kepada pemerintah agar kalo mengadakan rapat atau acara-acara kantor agar memesan bantal kami. Supaya usaha kami ini tidak mati,” pintanya memungkasi.

(Anas/pl)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU