LOMBOK TIMUR – PorosLombok.com – Direktur Sunrise Land Lombok (SLL), Qori’ Bayyinaturrosyi membagikan tipsnya sukses mengelola sektor wisata denga mengembangkan konsep Voluntourism (Relawan Wisata).
Hal tersebut disampaikannya saat menyambut penutupan kegiatan general engglish yang dilakukan Universitas Hamzanwadi di SLL pada Jumat (2/6/2023) lalu.
Dikatakannya, saat ini yang diperlukan pihak pengelola wisata bukan hanya di Lombok Timur namun di NTB secara umumnya adalah meningkatkan skill, utamanya dalam segi bahasa.
Hingga ia mengajak para ikatan alumni Hamzabwadi itu untuk bekerjasama memberikan pembelajaran bagi para pelaku wisata di tempat itu, dan SLL siap memberikan pasilitas penuh.
Mengingat kata dia, pihaknya juga sebelumnta telah bekerjasama dengan berbagai komunitas, dan beberapa kegiatan yang sebelumnya dilakukan berjalan sukses.
Untuk itu, melihat kegiatan yang dilakukan ikatan alumni hamzanwadi postif, ia mengajak mereka berkolaborasi untuk bekerjasama dalam mberikan pembelajaran bukan hanya bagi para alumni semata namun masyarakat yang berkunjung ke SLL nanyinya.
“Karena memang prioritas kita pertama pengelola agar memiliki kemampuan dasar bahasa asing itu, karena didata pengunjung kami, pengunjung sudah ada dari mancanegara, sepweti dari German, Polamdia, Singapur, bahkan dari Arab Saudi,” katanya.
Dan diakuinya saat inj, kendala pengelola itu terkait bahasa, hal itulah yang membuat pengelola tidak mampu menjelaskan bahwa di SLL selain ada keindahan alam pantainya namun juga ada konserpasi penyu yang merupakam daya tarik luar biasa bagi wisatawan.
Untuk itu, dia menjelaskan, banyak macam segmen yang diambil oleh beberapa komunitas atau pengunjung yang berlatang belakang dunia kampus atau organisasi.
“Semisal yang dari komunitas motor mereka melakukan kegiatan pelatihan sablon, dan alumni Hamzanwadi untuk bahasa inggrisnya, dan itu yang kita butuhkan sekarang,” kata dia.
Mengingat memang, jika berbicara destinasi wisata, itu merupakan ruang pblik, dan di Lombol Timur kita butuh ruang publik yang disii oleh komunitas yang berasal dari berbagai latar dan mendistribusikan keahlian mereka.
“Kalau di pariwisata ada istilah pariwisata relawan ata Voluntourism, jadi wisatawan datang difasilitasi pengelola, dengan syarat wisatawan mentransfer pengetahuannya bagi masyarakat sekitar,” katanya.
“Dan itu simbiosi mutualisme kita, dan kita mendapatkan benefit kalau profite urusan belakang,” tandasnya.
Disatu sisi, Ketua Harian Ikatan Alumni Hamzanwadi, Agus Khairi menyambut baik ajakan yang dsampaikan Qori’.
Mengingat kegiatan General English yang dijalankan pihaknya juga bagian dari pembekalan basic Bahasa Inggris.
“Hingga sudah barang tentu tempat wisata adalah pilihan tempat untuk meningkatkan basic berbahas itu,” katanya.
Saat ini, Ikatan Alumni Hamzanwadi juga telah menjalin kerjasama dengan berbagai oihak, salah satunya yakni Badan Riset Daerah, dan juga Rumah Bahas NTB.
Ajakan bekerjasama untuk melakukan bimbingan di SLL juga akan dipertimbangkannya.
“Nanti kita akan diskusikan itu, itu menarik, kita juga butuh tempat untum melakukan pembelajaran bisa nyantai dan tidak terkesan pormalitas,” ungkapnya.
Terlebih di Unibersitas Hamzanwadi ada prodi pariwisata, dan twaran SLL untuk itu akan menjadi avuannya ke depan.
(Yami Ulandari/PL).















