LOTIM – PorosLombok.com | Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan berbagai penyakit baik itu penyakit pada manusia yaitu covid-19 kemudian dilanjutkan dengan penyakit hewan, yaitu penyakit mulut dan kuku (PMK) khususnya ternak sapi, kemudian penyakit pada unggas yang sudah endemis yaitu flu burung.
Selain itu juga, kita dihadapkan dengan persolan kualitas protein hewani yaitu daging dan telur yang berpotensi memiliki residu antibiotik dan cemaran mikroba.
Demikian disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Lombok Timur Drh. Hultatang, melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi media ini, Rabu (29/3/23).
Dengan perubahan iklim, kata dia, metabolisme tubuh, tingkat residu antibiotik dan cemaran mikroba kita akan dihadapkan dengan beberapa hal yaitu: penyakit zoonosis ( penyakit yang menular dari hewan ke manusia ) dan penyakit infeksi baru.
“Sehingga dibutuhkan peran serta semua pihak untuk melakukan tindakan pencegahan, pengendalian dan pengobatan,” terang Tatang, begitu ia karib disapa.
Dengan kondisi tersebut, lanjut dia, maka Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui bidang kesehatan hewan dan masyarakat vetriner sudah membentuk team reaksi cepat (TRC) di tingkat Dinas dan Kecamatan ( puskeswan ).
Pembentukan tim reaksi cepat, urai dia, untuk merespon setiap laporan dari masyarakat, dan ditingkat desa akan membentuk SBM ( surveilance berbasis masyarakat ) di setiap desa akan dibentuk SBM.
Lanjutnya lagi, Ketika ada kasus di masyarakat, maka masyarakat ( SBM ) akan melapor melalui laporan online, kemudian laporan direspon oleh otoritas veteriner dan dokter hewan berwenang untuk dilakukan tindakan pencegahan, pengendalian dan pengobatan, penegakan diagnosa, melakukan edukasi ke masyarakat.
Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kerjasama antara dinas peternakan dan kesehatan hewan dengan pemerintahan desa, dimana dinas membentuk team reaksi cepat dan desa membentuk SBM.
“Melalui dana ketahanan pangan dan hewani bisa mewujudkan program tersebut bekerjasama dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan,” pungkasnya. (red)















