(PorosLombok.com) – Ketegangan di ruang IGD rumah sakit sering kali dipicu oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai regulasi terbaru penjaminan kesehatan.
Fenomena tersebut dibedah tuntas dalam dialog publik bertema “BPJS Kesehatan: Tantangan Rumah Sakit & Harapan Pasien” yang diinisiasi Forum Komunikasi Aktivis Kesehatan (FKAK) NTB di Aula An Naba, Inkes Yarsi Mataram, Kamis (22/1/2026).
Koordinator FKAK NTB, Abdul Hafidzirrahman menjelaskan bahwa forum ini sengaja digelar untuk mempertemukan para pemangku kepentingan guna mencari solusi atas dinamika program JKN yang kian kompleks.
“Agenda ini kami lakukan secara berkala sebagai ruang berbagi informasi, sehingga bisa menjadi referensi tambahan bagi semua pihak,” ungkap pria yang akrab disapa Hafiz tersebut.
Hafiz menilai keterlibatan aktivis sangat krusial dalam mengawal setiap kebijakan sektor kesehatan yang berdampak langsung pada masyarakat luas di Nusa Tenggara Barat.
“Isu kesehatan itu sangat dekat dengan masyarakat, karena itu perlu ada yang terus mengawal, mengkritisi, sekaligus memberi ruang dialog,” tegasnya.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kebijakan mengenai 144 jenis penyakit yang kini tidak lagi ditanggung BPJS Kesehatan jika ditangani di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL).
“Masalahnya bukan hanya regulasinya, tapi ketidaktahuan masyarakat yang datang ke IGD dengan asumsi semua ditanggung, sementara RS wajib patuh aturan,” jelas Hafiz.
Kondisi tersebut berdampak buruk pada psikologis para pekerja medis di lapangan yang sering kali harus menghadapi kemarahan pasien akibat regulasi yang tidak mereka buat sendiri.
“Di sinilah sering muncul ketegangan antara pasien dan nakes, padahal petugas hanya menjalankan aturan yang berlaku,” cetusnya.
Menyikapi hal itu, FKAK NTB mendorong pemerintah dan otoritas terkait untuk lebih masif dalam melakukan literasi publik sebelum sebuah aturan diterapkan secara kaku di rumah sakit.
“Ke depan, regulasi harus diikuti dengan edukasi publik. Kalau masyarakat paham, konflik di IGD bisa dikurangi dan pelayanan jadi lebih optimal,” pungkas Hafiz.
(Redaksi/PorosLombok)
















