(PorosLombok.com) – Puskesmas Terara sukses menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga terjun bebas. Meski musim hujan mulai mengguyur sejak Juni lalu, tren penyakit mematikan ini justru menurun signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Puskesmas Terara, H. Ahmad Yani, menegaskan bahwa pihaknya kini tidak lagi menggunakan pola “tunggu bola” dalam menangani ancaman nyamuk Aedes Aegypti.
”Begitu ada laporan kasus, teman-teman langsung melakukan screening ke lokasi kejadian. Setelah itu, baru dilakukan survei jentik dan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),” ujar H. Ahmad Yani saat memberikan keterangan, kepada PorosLombok. Rabu (07/01).
Ia juga menekankan bahwa tindakan fogging atau pengasapan bukan lagi menjadi prioritas utama. Menurutnya, kesadaran masyarakat jauh lebih ampuh daripada sekadar semprotan asap.
”Tindakan fogging tetap menjadi pilihan terakhir apabila upaya PSN belum memberikan hasil yang maksimal di wilayah tersebut,” tegasnya.
Namun, di tengah penurunan kasus ini, Desa Sukadana masih menjadi catatan merah. Desa ini mendapat pengawasan khusus karena riwayat kasusnya yang masih menonjol dibanding desa lain. Masalah pola pengelolaan sampah disinyalir menjadi biang kerok kerawanan di sana.
Mengenai kesiapan tim medis, Ahmad Yani memastikan Tim Gerak Cepat (TGC) Puskesmas Terara kini dalam posisi siaga satu untuk mengantisipasi Kejadian Luar Biasa (KLB).
”Sementara ini memang belum ada KLB, tapi tim di Puskesmas sudah ada TGC. Lintas program juga tetap berjalan jika ada indikasi yang mengarah ke peningkatan kasus,” imbuhnya.
Ia berharap tren positif ini tidak membuat warga lengah. Kebersihan lingkungan tetap menjadi harga mati agar wilayah Terara benar-benar bersih dari ancaman DBD
(arul/PorosLombok)













