LOTIM – PorosLombok.com | Seorang pasien asal Dusun Monjet, Desa Surabaya, Kecamatan Sakra Timur bernama Ibu Istikomah yang melahirkan di RSUD dr. Raden Soedjono Selong meninggal dunia pada Sabtu 17 Februari 2024 kemarin usai tim dokter melakukan operasi pengangkatan rahim.
Namun pihak keluarga mempertanyakan kinerja tim dokter yang melakukan operasi tersebut. Pasalnya, kejadian serupa pernah dialami oleh keluarga yang sama beberapa waktu lalu, dengan kasus yang sama.
Alih-alih meminta maaf kepada keluarga pasien, pihak Rumah Sakit justru menuding pihak Puskesmas Lepak Kecamatan Sakra Timur yang terlambat merujuk pasien bersangkutan ke Rumah Sakit, bahkan pihak Puskesmas juga tidak menginformasikan terlebih dahulu.
Meski tak disampaikan secara eksplisit, namun secara implisit pihak rumah sakit seakan menuding pihak Puskesmas Lepak sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Puskesmas Lepak, Jamali, angkat bicara bahwa apa yang dituduhkan pihak Rumah Sakit adalah tidak benar, karena pihaknya sudah bekerja sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Kita sudah tanya teman-teman di sini, ternyata mereka bekerja sesuai SOP. Dan kayaknya, kalo rumah sakit mengatakan keterlambatan rujukan, itu tidak benar,” ujar Jamali saat dikonfirmasi pada Kamis (22/2/2024).
Keyakinan Jamali itu berdasar pada proses persalinan sang pasien dipimpin normal. Logikanya, jika terjadi keterlambatan atau pasien sudah dalam kondisi kritis, maka tidak akan mungkin persalinannya dipimpin normal.
Meski begitu, Jamali tidak menampik jika pihaknya tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada pihak Rumah Sakit saat akan melakukan rujukan. Menurutnya, alasan Bidan yang menangani saat itu agar tidak terlalu lama menunggu.
“Teman-teman mengatakan kondisinya kurang baik, tapi di perjalanan diberikan cairan infus juga. Sehingga sampai di rumah di sana, pihak rumah sakit mengatakan kondisi pasien ini bagus, kenapa dikategorikan emergency dia bilang pihak rumah sakit,” bebernya.
“Makanya kan persalinannya dipimpin normal. Kalo menang kritis ndak mungkinlah persalinannya dipimpin normal, lgikanya begitu. Tapi setelah terjadi pasien meninggal, barulah ada statemen rumah sakit bahwa Puskesmas Lepak terlambat merujuk,” imbuhnya.
Ikut mendampingi Plt Kapus, koordinator bidan pada Puskesmas Lepak Sulhiyah, A.Md.Keb ikut buka suara. Dia menuturkan, kondisi pasien saat diantar keluarganya pada pagi hari masih bukaan satu dan dalam kondisi normal.
“Saat kita observasi masih bukaan satu dan kondisinya masih normal, makanya masih bisa jalan-jalan,” tutur Sulhiyah.
Namun pada malam harinya sang pasien mengalami pecah ketuban serta kondisinya sudah mulai drop. Dikarenakan Puskesmas Lepak hanya bisa menangani persalinan normal, maka diputuskan untuk dirujuk ke Rumah Sakit.
“Karna kita di sini bukan Puskesmas Ponek sehingga kita tidak bisa mengambil tindakan yang abnormal. Artinya tindakan yang bisa kita ambil di sini yang normal-normal saja,” tukasnya.
(Anas/PL)















