close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

24.3 C
Jakarta
Kamis, Januari 22, 2026

Lurah Kelayu Jorong Gandeng Tokoh Agama Masukkan Edukasi Stunting ke Mimbar Pengajian

(PorosLombok.com) – Lurah Kelayu Jorong, Rifki Marthapati, punya cara baru melawan stunting di wilayahnya. Ia merangkul para Tokoh Agama agar pesan kesehatan bisa langsung disampaikan kepada warga melalui mimbar pengajian.

​Langkah ini diambil setelah Rifki menemukan masalah unik saat memantau kegiatan Posyandu. Ia melihat bantuan gizi seperti telur dan susu sering kali tidak dimakan oleh anak yang membutuhkan, melainkan habis dikonsumsi oleh orang tuanya.

​”Setelah saya tanya orang tua penerima, ternyata banyak anak yang tidak suka makan telur. Akhirnya bantuan itu malah lebih banyak dimakan orang tuanya sendiri. Barangnya sampai, tapi gizinya tidak masuk ke anak stunting,” ujar Rifki, Minggu (11/1/2026).

​Rifki menilai, warga di lapisan bawah lebih mendengar nasihat tokoh agama ketimbang informasi formal. Itulah alasan ia meminta bantuan para tokoh masyarakat untuk menggunakan bahasa yang akrab dan mudah dipahami warga saat berdakwah.

​”Bahasa yang digunakan harus bahasa yang mereka mengerti melalui tokoh yang mereka segani. Kami mohon bantuan tokoh agama agar menyelipkan pesan kesehatan anak ini kepada para jamaah,” tambahnya.

​Selain masalah pola makan, Rifki juga menyoroti bahaya pernikahan dini yang masih ditemukan di wilayahnya. Menurutnya, nikah di bawah umur menjadi salah satu pemicu utama lahirnya bayi stunting karena ketidaksiapan fisik dan mental sang ibu.

​”Pernikahan dini masih ada, bahkan di wilayah kota pun banyak ditemukan. Kami terus cegah lewat koordinasi dengan Kepala Lingkungan dan pendekatan ke orang tua agar masalah ini diselesaikan baik-baik,” tegas Rifki.

​Pihak kelurahan kini tengah mengusulkan pengadaan alat timbang digital dan pengukur tinggi badan yang lebih akurat. Hal ini penting agar data pertumbuhan balita di setiap lingkungan tidak meleset dan penanganan bisa lebih tepat.

​”Kami terus mengevaluasi apa saja kekurangan di lapangan, terutama alat penunjang bagi kader Posyandu agar datanya lebih akurat,” jelasnya.

​Rifki berharap edukasi lewat jalur religi dan perbaikan sarana ini bisa menjadi kunci perubahan perilaku masyarakat secara luas. “Harapan saya, edukasi ini disiarkan terus-menerus di setiap momen agar informasi gizi benar-benar sampai ke masyarakat bawah,” tutupnya.

​Sebagai informasi, Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu daerah yang masuk dalam zona merah stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kondisi ini membuat upaya kolaboratif di tingkat kelurahan seperti yang dilakukan Rifki menjadi sangat krusial untuk memperbaiki rapor kesehatan di daerah tersebut.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER