PorosLombok.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bergerak cepat mengklarifikasi video viral di TikTok mengenai nasib empat Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tertahan di Libya pada Jumat (27/02).
​Kepala Dinas Kominfotik NTB, Ahsanul Khalik menegaskan empat warga asal Sumbawa Barat, Sumbawa, dan Dompu tersebut kini sudah berada dalam perlindungan penuh KBRI Tripoli sehingga dipastikan dalam kondisi aman serta terpantau otoritas.
​”Video yang beredar dibuat ketika para PMI tersebut sudah berada dalam perlindungan KBRI Tripoli,” ujarnya.
​Aka—sapaan akrabnya—mengatakan bahwa otoritas diplomatik kini sedang mengupayakan negosiasi intensif dengan pihak agensi dan majikan demi menjamin hak-hak para pekerja tersebut agar bisa segera pulang ke tanah air.
​”Kondisi mereka saat ini aman, sehat, dan berada di bawah pengawasan serta pendampingan pihak KBRI,” jelasnya.
​Juru Bicara Pemprov NTB ini mengungkapkan tim di lapangan memprioritaskan pengembalian paspor serta penyelesaian administrasi exit permit agar proses pemulangan para pahlawan devisa ini tidak mengalami kendala hukum yang lebih berat.
​”Pengembalian paspor menjadi prioritas utama karena sangat menentukan percepatan proses pemulangan,” katanya.
​Informasi dari lapangan menunjukkan pihak agensi menuntut ganti rugi sebesar USD 7.000 per orang sebagai syarat mutlak pengembalian dokumen yang ditahan, sehingga pemerintah terus melakukan lobi diplomatik tingkat tinggi.
​”Permintaan tersebut dinilai sangat memberatkan PMI dan keluarganya,” jelasnya.
​Pihak pemerintah membeberkan kronologi pelarian para pekerja domestik ini dipicu oleh tindakan kekerasan fisik, verbal, hingga beban kerja yang melampaui batas kewajaran selama mereka bekerja di sektor rumah tangga secara nonprosedural.
​”Mereka memutuskan melarikan diri dan meminta perlindungan karena perlakuan tidak manusiawi,” ujarnya.*














