PT. Dyriz Indonesia Bantu Ratusan Petani Bawang di Lombok Timur Tingkatkan Produksi Dengan Teknologi PLT

LOMBOK TIMUR – PorosLombok.com | PT. Dyriz Indonesia melalui Tehnologi Paket Lengkap Terpadu (TPLT) telah membantu para petani bawang yang ada di Kecamatan Pringgabaya, Suela, dan Wanasaba, Lombok Timur.

Ratusan petani yang telah menjadi binaan PT. Dyriz Indonesia pada panen tahun 2023 ini telah berhasil memanen bawang hingga lebih 2 kali lipat, terhitung mencapai 28 ton per hektar dari yang semula hanya 6 sampai 10 ton per hektar saja.

Area Marketing Manager Wilayah Bali Nusra Pt. Dyriz Indonesia, E. J. S. Veri Samodro mengatakan, untuk tiga Kecamatan yakni Kecamatan Pringgabaya, Suela, dan Wanasaba, pihaknya telah mencatat ratusan petani bawang merah yang menjadi binaannya.

Melihat bawang merah punya nilai ekonomi tinggi dengan umur tanam yang relatif pendek dikisaran 60 hingga 70 hari, membuat PT. Dyriz Indonesia intens memberikan pembinaan hingga berinovasi dalam penggunaan tehnologi yang bisa membantu para petani.

“Kita bantu para petani mulai dari perawatannya intensif, khusus petani binaan alhamdulillah tanamannya sangat bagus, ketika petani diluar banyak kenak ulet, tumbuhnya jelek, anakannya sedikit, tapi para petani yang kita bina mulai dari awal ini sudah mendapatkan keuntungan yang signifikan saag ini,” ucap Veri, saat ditemui media ini, Rabu (23/8/2023).

Rahasianya kata dia, petani binaan dari PT. Dyriz Indonesia telah merubah kebiasaan lama dengan menerapkan tehnologi PLT, satu diantaranya adalah penggunaan Light Trap Insect pada pengendalian hamanya.

“Ini murni kerjasama antara perusahaan swasta dari petani, dan petani swadaya bukan bantuan pemerintah,” jelasnya.

Dijelaskannya, penerapan Tekhnologi PLT yang didalamnya ada Light Trap Insect, itu adalah bagian dari upaya merubah mindset petani untuk fokus pada peningkatan produksi bukan hanya fokus mengatasi ulatnya supaya mati menggunakan pestisida kimia.

Mengingat pestisida kimia (Insektisida) sendiri mengandung racun dan tentunya bawang merahnya menjadi tidak sehat untuk dikonsumsi, hingga penggunaan Light Trap Insect itu adalah upaya nyata untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia.

“Kalau fokusnya petani dulu itu banyak membeli pestisida, tapi mereka mengabaikan bawang merahnya yang perlu dirawat, nah dengan adanya Light Trap Insect kita ubah kebiasaan itu,” jelasnya.

Cara kerja Light Trap Insect tersebut dijelaskannya, hama yang ada terutama yang bersayap sangat suka dengan cahaya, Light Trap Insect tersebut kemudian digunakan dari mulai magrib hingga menjelang subuh.

“Hama itu kuta pastikan mati ditempat dan tidak ada kesempatan hama itu memasukkan telurnya ke bawang merah,” ungkapnya.

Adapun sebaran Light Trap Insect ini, dari satu hektar tanah, petani hanya butuh 30 set, dengan biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 7 juta include dengan pemasangannya.

Kendati diakuinya, Light Trap Insect ini masih percontohan, namun diyakininya akan lebih membantu petani yang mulanya membayar pestisida setiap tahun, disamping ketersedian yang langka tentu kesehatan tanaman jika menggunakan pestisida tidak terjamin

“Jadi kalau menggunakan Light Trap Insect tanaman apapun ini lebih sehat, tidak mengandung racun dari pestisida itu, dan ini bisa digunakan untuk semua petani,” demikian Very.

Dilain pihak, H. Anto, petani yang telah menjadi mitra PT. Dyriz Indonesia dari bulan mei 2023 lalu saat ini telah merasakan keuntungan yang signifikan.

“Alhamdulillah setelah kita memakai produk dari PT. Dyriz Indonesia, walaupun cuaca ekstrim sekarang ini bisa kita tanggulangi, terutama menggunakan lampu itu (Light Trap Insect) hama langsung terperangkap,” katanya.

Dirinya menanam bawang merah dilahan seluas 2 hektar, dengan bibit yang ditanam sebanyak 2 ton bibit. Ia mengaku setelah menggunakan produk PT Dyriz Indonesia keuntungan yang dia dapatkan hingga 28 ton per hektarnya

“Sebelum kita pakai produk dari PT Dyiz Indonesia ini kita hanya dapat 6 ton per hektar, saat ini dua kali lipatnya hingga 28 ton,” tegasnya.

“Ini sudah kali ke 13 kita menggunakan dan kita pertahankan, yang kita beli cuman dari obat dan alatnya saja,” lanjutnya.

Kepala Desa setempat (Desa Prigi), Darmawan mengakui kebermanfaatan beragam obat dan tekhnologi yang dibawa PT Dyriz di para petani.

Ia mengaku semua masyarakat petani tang ada di dua Desa Prigi dan Desa Pringgabaya Utara telah beraluh ke penggunaan tekhnologi Light Trap Insect tersebut.

“Rata-rata petani bawang merah kita di dua desa, Prigi dan Desa Pringgabaya Utara sudah menjadi mitra PT Dyriz ini, dan alhamdulillah semuanya tuai untung,” tutupnya. (*).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU