PorosLombok.com – Gema talbiyah belum berkumandang, namun ribuan warga Lombok Timur sudah menciptakan “asrama tandingan” di sepanjang trotoar Embarkasi Lombok demi menunjukkan kesetiaan mengantar keluarga menuju tanah suci.
Fenomena ini bukan sekadar urusan transportasi, melainkan manifestasi dukungan spiritual yang mendalam. Trotoar dan pinggir jalan berubah menjadi ruang tunggu raksasa bagi mereka yang tak ingin kehilangan momen detik-detik keberangkatan tamu Allah, Senin (27/4/2026) malam.
“Kami menempuh perjalanan jauh dari Sambelia selama empat jam hanya untuk bisa melihat kakak berangkat,” ujar Talaah, warga pengantar asal ujung timur Lombok.
Talaah menjadi satu dari ribuan saksi hidup betapa tradisi mengantar haji memiliki daya pikat luar biasa. Baginya, rasa lelah duduk di emperan asrama selama berjam-jam tak sebanding dengan kebahagiaan melepas keberangkatan saudara kandungnya.
Jarak tempuh lintas kabupaten tidak menyurutkan niat rombongan keluarga besar ini untuk terus mendampingi jemaah. Mereka seolah ingin memastikan bahwa doa-doa keselamatan dipanjatkan sedekat mungkin dengan bus yang akan membawa jemaah.
“Sengaja kami menginap di sini karena jarak rumah sangat jauh, jadi lebih praktis menunggu langsung di lokasi,” katanya.
Lokalitas yang kental terlihat dari cara warga bertahan hidup di jalanan dengan perbekalan yang dibawa langsung dari kampung halaman. Nasi bungkus dan aneka lauk pauk menjadi teman setia di tengah dinginnya angin malam Kota Mataram.
Meski jumlah rombongan mencapai sepuluh orang, mereka memilih cara-cara sederhana tanpa tenda atau peralatan kemah mewah. Trotoar asrama haji pun beralih fungsi menjadi ruang silaturahmi antarwarga yang memiliki tujuan serupa.
“Rencananya kami sepuluh orang keluarga besar akan menginap di sini tanpa membawa kompor atau alat masak,” ujarnya.
Keluarga jemaah menganggap menginap di asrama sebagai ritual perpisahan sementara yang sakral sebelum dipisahkan jarak ribuan kilometer. Kehadiran fisik mereka di gerbang asrama dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi calon haji.
Antusiasme ini bahkan direncanakan berlanjut hingga iring-iringan menuju bandara, sebuah bukti bahwa ikatan kekeluargaan di Lombok Timur sangatlah militan. Kerumunan tetap bertahan meski akses jalan kian padat oleh ribuan kendaraan pengantar lainnya.
“Motivasi utama kami rela menginap hanya satu, yaitu ingin melihat langsung kakak saya berangkat memenuhi panggilan-Nya,” pungkasnya.*















