(PorosLombok.com) – Kematian Sukmin (65), warga Dusun Temusik, Desa Montong Betok, Kecamatan Montong Gading, menyoroti keterbatasan fasilitas Puskesmas Montong Betok.
Keluarga menilai pelayanan tidak maksimal, padahal pihak puskesmas menegaskan prosedur medis sudah dijalankan.
Kepala Puskesmas Montong Betok, Syaiful Idris, menyebut ruang UGD lima tempat tidur dan seluruh ruang perawatan sudah penuh saat kejadian.
Karena itu, pasien yang membutuhkan penanganan cepat diarahkan untuk dirujuk ke rumah sakit terdekat. Surat rujukan pun sudah disiapkan agar proses penanganan tidak terhambat.
“Kebetulan pada saat itu ada pasien lain, seorang ibu hamil, yang harus segera dirujuk. Semua langkah medis tetap kami jalankan sesuai prosedur, namun waktunya bersamaan,” ujar Syaiful, Selasa (09/09).
Ia juga membantah tudingan dokter tidak hadir. Saat kejadian, empat tenaga medis aktif berada di puskesmas, salah satunya memeriksa pasien termasuk pemeriksaan jantung menggunakan EKG.
Seluruh staf kini dievaluasi agar kondisi darurat berikutnya bisa segera ditangani tanpa hambatan, tetap berlandaskan SOP.
“Kami sudah menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan hadir di rumah duka. Hubungan dengan pihak keluarga tetap harmonis,” tambah Syaiful.
Sebelumnya, tragedi pelayanan kesehatan terjadi di Puskesmas Montong Betok, Senin (08/09). Sukmin meninggal dunia setelah ditolak perawatan oleh petugas yang mengklaim fasilitas penuh dan menyarankan rujukan ke rumah sakit jauh.
Keluarga yang panik meminta ambulans, tetapi ditolak dengan alasan tidak sesuai SOP. Petugas malah menyarankan.
“Kalau punya mobil sendiri, silakan bawa ke rumah sakit lain,” ujar salah seorang keluarga menirukan ucapan petugas.
Keluarga terpaksa meminjam mobil pick-up untuk membawa Sukmin ke RS Anggoro. Sayangnya, korban meninggal di tengah perjalanan.
Setibanya di rumah sakit, petugas hanya memeriksa sekilas dan memastikan Sukmin sudah meninggal, kemudian jenazah diantar kembali ke rumah duka menggunakan ambulans.
Mantan Kepala Desa Montong Betok, Kamrul Ahzan, yang juga ipar almarhum, mengecam keras kejadian ini. Menurutnya Ini bukti nyata bahwa pelayanan di Puskesmas Montong Betok tidak layak.
“Seharusnya petugas lebih responsif. Orang sakit parah malah ditolak begitu saja,” ujarnya.
Masyarakat setempat pun menyuarakan kekecewaan dan mendesak Dinas Kesehatan Lombok Timur melakukan evaluasi menyeluruh.
“Ini tidak boleh terulang. Pelayanan kesehatan harus diutamakan,” tegas Kamrul.
(Redaksi/PorosLombok)















