(PorosLombok.com) – Akses transportasi di Desa Perigi, Kecamatan Suela, yang sempat lumpuh total akibat terjangan banjir, kini mulai menemukan titik terang.
Pembangunan Jembatan Bailey sebagai solusi darurat tengah dikebut dan dirancang khusus agar lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan.
Hingga Kamis 8 Januari 2026, pengerjaan jembatan rangka baja ini menunjukkan progres yang sangat positif. Baru memasuki hari keempat, fisik jembatan dilaporkan sudah rampung 45 persen dengan delapan petak rangka yang sudah terpasang kokoh.
Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, terlihat turun langsung ke lokasi. Pria yang akrab disapa Miq Mul ini tidak hanya memantau, tapi juga ikut berjibaku bersama tim di lapangan dalam semangat gotong royong.
”Sudah terpasang 8 petak, tinggal 7 petak lagi. Artinya sudah 45 persen di hari keempat ini. Saya monitor sekaligus membantu pekerjaan itu,” kata Lalu Mulyadi, Kamis (8/1/2026).
Lalu Mulyadi memastikan tim di lapangan bekerja ekstra agar keterisolasian warga segera berakhir. Ia mematok target jembatan ini sudah bisa dilalui dalam waktu dekat, tergantung dinamika cuaca dan teknis di lapangan.
”Target selesainya ya 10 hari paling cepat, 15 hari paling lambat. Antara 10 sampai 15 hari sudah tuntaslah itu,” tegasnya optimis.
Selama proses pengerjaan, Miq Mul menyebut belum menemukan hambatan berarti. Hal ini lantaran tim teknis bekerja secara penuh waktu sejak pagi hari guna mengejar target penyelesaian.
”Sejauh ini kalau kendala belum ada. Tim ini memang bekerja full time. Start jam 07.00, istirahat jam 12.00. Semuanya berjalan lancar sejauh yang saya lihat langsung,” urainya.
Ada yang menarik dari konstruksi Jembatan Bailey kali ini. Berbeda dengan struktur sebelumnya, jembatan ini dirancang tanpa pilar di bagian tengah. Tujuannya jelas: agar air sungai mengalir lancar tanpa terhambat sampah atau material saat banjir melanda.
”Kalau ini kan tidak memiliki pilar di tengah, jadi air dapat mengalir dengan lancar. Dan ini kita tambah panjangnya di kiri dan kanan jembatan,” papar Miq Mul secara teknis.
Bukan cuma soal pilar, bentang jembatan pun dibuat jauh lebih panjang. Dari yang semula hanya 14 meter, kini membentang sepanjang 24 meter dengan penambahan masing-masing 5 meter di kedua ujung as guna memperkuat pondasi lama.
Meski statusnya jembatan rangka baja, kekuatannya tidak main-main. Berdasarkan keterangan tim pengawas, jembatan ini mampu menahan beban kendaraan hingga puluhan ton.
”Kekuatannya sama dengan jembatan biasa. Spesifikasinya menahan beban 20 sampai 25 ton. Jadi cukup kuat,” tuturnya.
Meski begitu, Miq Mul menitipkan pesan penting bagi warga Desa Perigi dan sekitarnya. Ia berharap masyarakat memiliki rasa menjaga agar jembatan ini awet, terutama soal aturan muatan kendaraan.
”Harapan kita masyarakat tolong perhatikan tonase saja. Perhatikan tonase dan pemeliharaan ringan nantinya,” pesan Miq Mul.
Ia mewanti-wanti agar pengguna jalan tidak memaksakan kendaraan dengan muatan berlebih. Kedisiplinan warga adalah kunci agar infrastruktur yang dibangun dengan susah payah ini tidak cepat rusak.
”Yang paling penting itu menjaga tonase kendaraan yang lewat, jangan sampai melebihi kapasitas. Walaupun sebenarnya sudah cukup aman, tapi tetap harus dijaga,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)













