LOMBOK TIMUR – Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur terus berbenah melakukan penataan kawasan wilayah selatan. Hal itu lantaran kawasan ini dipersiapkan sebagai penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai destinasi wisata super prioritas. Pasalnya, kawasan itu juga akan digelar event besar MotoGP, tentu akan semakin menambah daya tarik wisatawan mancanegara maupun lokal.
Terkait hal itu, Pemda Lotim melalui Dinas Perhubungan (Dishub) pada tahun anggaran 2021 ini memiliki 4 program kegiatan. Yang pertama adalah, pembangunan jembatan yang menghubungkan gili ree dan gili belek yang ada di kecamatan jerowaru sepanjang 241x 2.5 meter, dengan pagu anggaran sebesar 2.5 miliar rupiah, pembangunan jembatan itu sendiri menggunakan tiang pancang. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Lombok Timur, Purnama Hadi, di ruang kerjanya, jum’at (27/08/21).
Yang kedua, lanjut dia, pembangunan Dermaga Rakyat di kawasan ekas dengan anggaran 1.5 miliar rupiah. namun karna anggarannya terkena refocusing sehingga pembangunannya tak jadi dilaksanakan pada tahun ini. Yang ketiga, Trandes berupa mobil transportasi desa untuk masyarakat dan pengadaan kapal cepat (speed boad), dengan pagu anggaran untuk keduanya sebesar 3.3 miliar rupiah.
“Yang keempat itu adalah, pembangunan dan penataan ruang parkir di kawasan ekas dengan dana sebesar 700 juta rupiah,”ungkap Purnama Hadi.
Ia mengatakan, dari ketiga program kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh Dishub sampai saat ini progressnya sudah signifikan. Ia merinci, untuk pembangunan jembatan sudah mencapai 50 persen, untuk pengadaan Trandes yakni pengadaan mobil transportasi desa sudah 100 persen. Sedangkan untuk speed boad sudah mencapai 80 persen. “InsyaAllah september ini sudah selesai,” ujarnya merincikan.
Terkait estimasi masa pengerjaan pembangunan jembatan penghubung gili ree dan gili belek, lanjut dia menjelaskan, sesuai dengan kontrak yakni 5 bulan atau 150 hari kerja kalender, Mulai dari 10 juni hingga 10 november 2021. “Alhamdulillah progressnya sudah mencapai 50 persen lebih. Dan sebenarnya sudah layak mereka mengusulkan termin pertama, tapi belum kita bayar. Mereka baru kita kasi DP 500 juta,”bebernya.
Lebih lanjut, Purnama Hadi menjelaskan, jembatan tersebut merupakan salah satu penunjang pariwisata yang posisinya berada di teluk jukung sebelah timur telong-elong, dimana teluk tersebut sudah menjadi kawasan lobster estate (kampung lobster). Nantinya kawasan budidaya perikanan tersebut akan terintegrasi dengan kawasan pariwisata yang ada di wilayah tersebut.
“Makanya nanti jembatan itu kita pasangkan pernak pernik lampu-lampu hias. Sehingga semakin menambah keindahan pemandangan dimalam hari,”ujar dia.
Selain Dishub, lanjut dia lagi, di ekas ada 5 OPD terkait yang sedang konsentrasi mengepung pembangunan pengembangan pariwisata di wilayah selatan sebagai destinasi wisata penyangga KEK Mandalika super prioritas. Yakni PUPR dengan dan satu koma sekian miliar akan membangun jalan dan jembatan yang menghubungkan jalan lingkar, mulai teluk ekas menuju makam teompok-ompok yang merupakan makam bersejarah. Nantinya makam tersebut akan menjadi salah satu destinasi wisata.
Lalu, masih kata dia, ada Dinas Perkim yang sedang membangun 73 Rumah Layak Huni (RLH) untuk masyarakat yang selama ini tinggal di sempadan pantai. Yang ketiga, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) yang mendapatkan bagian menimbun lahan tempat pembangunan RLH untuk masyarakat yang terkena relokasi dengan luas satu hektar.
Lalu yang keempat adalah Dishub sendiri yang mendapatkan tugas melakukan pembangunan area parkir dan penataan jalan lingkungan dengan menggunakan paping blok. Untuk area parkir saja, jelas dia, luasnya 1.8 hektar untuk ruangan, serta nantinya ditempat itu akan dibangun gazebo dan lapak (tempat berjualan masyarakat). sementara khusus untuk parkir kelas VIP adalah 85 are.
“Nanti kita juga akan memasang paping blok sepanjang pantai, dengan panjang 312 meter dengan dana 200 juta,”ungkapnya.
Yang kelima adalah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Kondisi saat ini, menurut dia, kondisinya masih sangat semrawut, dimana para pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA) semuanya masih menggunakan bambu. “Kedepan kita akan kemas, kita akan atur supaya para KJA tidak menggunakan bambu lagi, dan mereka harus menggunakan alat dari bahan Aquatec. Nantinya para KJA ini akan terintegrasi dengan rumah makan terapung yang akan kita bangun di teluk ekas,”demikian kata Purnama Hadi. (ns-pl)

















