LOTIM – Poroslombok.com | Pada November 2022 lalu, Bupati Lombok Timur HM. Sukiman Azmy, memberangkatkan sebanyak 40 orang untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai hadiah atas prestasi dan dedikasinya memajukan daerah.
Dari 40 orang tersebut salah satunya adalah, Herry Syamsul W.S.Kep.Ners. ia merupakan staf pemegang program TB pada Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lenek, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur.
Awalnya, H. Herry adalah pemegang program tidak menular. Namun sejak tahun 2020 silam ia dipercaya oleh Kepala Puskesmas Lenek H. Multazam, untuk memegang program TB yang oleh masyarakat dikonotasikan sebagai penyakit yang menakutkan.
“Pada saat itu, saya belum bisa menerima sepenuhnya sebenarnya program ini, karna saya anggap program berat menurut saya,” kata H. Herry ketika ditemui poroslombok.com di ruang kerjanya, Senin (16/01/23).
Lanjut dia, sebelum menerima SK, ia kemudian membedah dan membaca sebuah buku bagaimana sesungguhnya TB itu, tata laksana TB itu, bagaimana pencatatan dan pelaporannya, dan strateginya seperti apa agar bisa melakukan penanggulangan TB baik secara kabupaten, provinsi dan nasional.
Selain itu, ia juga membaca buku SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang merupakan produk Kemenkes RI, dari sana ia dapat memahami seperti apa kemauan dari Kemenkes. Sebab, dalam buku tersebut terdapat materi SPM pada nomor 11 tentang penanggulangan TB atau pelayanan dasar orang yang terduga TB.
“Nah, dari sanalah saya membuat sebuah strategi sebenarnya, bagaimana mendapatkan suspek atau orang yang terduga TB. Belum ada kasus TB-nya, tapi baru terduga TB dulu,” sebutnya.
Strategi itulah yang kemudian mendasari lahirnya sebuah inovasi baru yang kemudian ia padukan dengan jargon “Tobat Ampuh” (temukan orang batuk obati sampai sembuh). Digunakannya kata batuk karna jauh lebih familiar dan lebih diterima ditengah-tengah masyarakat.
Hal itu menjadi pertimbangan tersendiri bagi dia untuk tidak menggunakan diksi TB. Sebab, jika menggunakan sebutan TB, dikhawatirkan upayanya akan mendapatkan hambatan dan penolakan dari masyarakat yang memiliki kesan menjijikkan terhadap penyakit menular tersebut.
“Nah, akhirnya saya pelesetin yang tadinya saya mau nyari orang TBC tapi saya cari orang batuk. Kalo saya tanya di sini ada yang batuk nggak? Oya di sini pak ada yang batuk sekian hari sekian minggu. Pokoknya banyak yang ngaku,” katanya.
Strategi itu, lanjut dia, cukup berhasil untuk mengelabui masyarakat. Walau pada akhirnya yang ia periksa adalah gejala TB-nya. Karna mengobati orang batuk jauh lebih familiar di tengah masyarakat.
Langkah selanjutnya, saat melakukan audiensi dengan masyarakat terduga TB yang sudah berhasil dikumpulkan pada satu tempat pertemuan, di sanalah kemudian ia menjelaskan bila mana batuk itu berkepanjangan dan secara terus-menerus meskipun sudah diobati.
“Nah barulah saya buka gerbang TBC itu, seperti ini lo dia. Tapi saya sudah mendapatkan dahaknya. Kalo sudah begitu, mau tidak mau mereka akan bertahan dan ujung-ujungnya mereka akan bertanya, kenapa bisa seperti itu?,” tuturnya.
Pada moment itulah ia kemudian mulai memberikan edukasi secara komprehensif tentang apa dan bagaimana bahaya TBC, hingga bagaimana solusi untuk mengobati serta cara memutus penularan TBC di tengah-tengah masyarakat.
Hasilnya, lanjut dia bersemangat, para audien yang pengetahuan dan kesadarannya tentang TBC sudah meningkat, maka akan tumbuh kesadarannya akan pentingnya kesehatan bagi diri mereka sendiri.
“Kalo sudah begitu, mereka justru bertanya, pak bagaimana, kapan keluar hasilnya?. Justru mereka lebih bersemangat untuk sembuh,” jelas dia lagi.
Terhadap beberapa audien yang dahak-nya diperiksa dan hanya mengalami batuk biasa, akan diarahkan untuk berobat biasa di puskesmas. Namun bagi yang didapati mengalami TBC, maka akan diberikan penanganan dan pengobatan secara khusus.
Adapun gejala-gejala TBC, terang dia lebih lanjut, penderita akan mengalami batuk secara terus-menerus selama lebih dari dua minggu, disertai dahak dan terkadang bercampur darah.
Adapun tingkatan TBC dapat ditentukan melalui pemeriksaan TCM (merupakan metode deteksi molekuler berbasis nested real-time PCR), maka akan ditemukan gejala TB dengan kuman very low, low, medium, high dan very high.
Maka grid TB akan ditentukan dari jumlah kumannya. Kendati begitu TBC tidak dilihat dari levelnya, karna meski dengan jumlah kuman yang sangat sedikit sekalipun, tetap dikategorikan sebagai Mictobacterium tuberculosis (MTB) yang siap ditularkan kepada orang lain.
“Maka penanganannya sama saja, apakah dia mau very low, medium atau very high sekalipun tetap harus minimal enam bulan pengobatan. Apakah keadaannya lemah, apakah bagus, atau apakah tidak bisa berjalan kalo sudah TB-nya positif, maka penanganannya sama,” jelasnya.
Meski termasuk penyakit menular dan dikonotasikan sebagai penyakit yang menakutkan, faktanya penderita TBC bisa sembuh total selama yang bersangkutan rajin dan teratur minum obat selama enam bulan. Hal itu dibuktikan H. Herry ketika menangani sebanyak 68 orang penderita TB pada tahun 2022.
Bermodalkan itu, ia kemudian mengikuti ajang Lomba Temukan dan Cegah TBC dengan aplikasi Sobat TB dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Kemenkes RI pada 24 Maret 2022. Luar biasanya, ia berhasil masuk 5 besar bahkan kemudian dinobatkan sebagai Juara Harapan 2 kategori Pemberian Terapi Pencegahan TBC.
Saat mengikuti lomba, ia yang sebelumnya tidak pernah mengikuti pelatihan tentang TBC, lagi-lagi sempat diselimuti keraguan. Tapi, hasrat hatinya yang ingin selalu bisa menemukan sesuatu yang baru membuat dirinya memberanikan diri untuk mengikuti lomba tersebut.
Atas upaya nyata dan kerja kerasnya itu, pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Kesehatan memberikan Piagam penghargaan kepada Puskesmas Lenek, sebagai Puskesmas dengan Capaian Kinerja Terbaik Pertama Program Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Lombok Timur.
Tak sampai di situ, Pemkab Lombok Timur bahkan mengganjar prestasi membanggakan yang telah mengharumkan nama daerah itu dengan memberangkatkan H. Herry pergi melaksanakan ibadah umrah yang dibiayai oleh Pemda, pada November lalu.
Menanggapi itu, Kepala Puskesmas (Kapus) Lenek H. Multazam, SKM.,MM, menyampaikan ucapan rasa syukur dan terimakasih yang tinggi kepada pemerintah daerah khususnya kepada Bupati Lombok Timur HM. Sukiman Azmy atas kepercayaan dan bimbingannya selama ini.
Menurut Multazam, prestasi yang telah diraih Puskesmas Lenek tak lepas dari peran aktif semua rekan-rekan PKM yang selalu berinovatif, dukungan yang besar dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lotim, dan pemerintah daerah yang selalu medukung kegiatan.
“Saya selaku Kepala Puskesmas menyampaikan ucapan terimakasih yang tiada terhingga, terutama kepada Bapak Bupati atas kepercayaan, perhatian dan juga hadiah umrah kepada staf kami,” ucapnya singkat.
(PL-anas)
















