(Lombok Timur, PorosLombok.com) — Kabupaten Lombok Timur diguncang oleh dua tragedi bunuh diri dalam satu hari, diduga akibat tekanan utang yang kian menghimpit masyarakat. Kejadian ini mengungkap sisi gelap dari fenomena utang yang semakin menjerat warga di daerah tersebut.
1. Tragedi di Desa Pemongkong, Jerowaru

Sebuah pagi yang suram menyelimuti Dusun Tanak Pait, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, ketika seorang wanita muda, Saripa Idatul Ra’yah Al Idrus (26), ditemukan tewas. Saripa, seorang petani, diduga mengakhiri hidupnya dengan cara tragis di rumah mertuanya. Peristiwa ini mencuat setelah Mahuni alias Inaq Jaya (40) menemukan Saripa dalam kondisi mengenaskan.
Sebuah pesan singkat yang ditinggalkan di kotak sabun membeberkan beban berat yang dipikul Saripa akibat jeratan utang, diduga berasal dari pinjaman online yang menjadi sumber tekanan tak tertahankan bagi korban.
2. Kejadian Serupa di Desa Sambelia

Di waktu yang sama, sebuah insiden tragis lainnya terjadi di Dusun Dasan Tinggi, Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia. Seorang pria lanjut usia, Makwan (66), ditemukan tewas tergantung. Makwan, yang dikenal sebagai buruh tani dan saudagar kambing, diduga mengalami tekanan berat karena utang yang belum terbayar.
Penemuan jasad Makwan bermula ketika Riska Sutri Apriani (19) yang sedang memandikan anaknya, melihat kondisi Makwan dan segera memanggil warga sekitar. Amaq Kandi (55), yang kebetulan datang untuk menagih utang, bersama Heri, seorang warga lainnya, berusaha menurunkan Makwan dan membawanya ke Puskesmas Sambelia untuk memastikan kondisinya, meski sayang sudah terlambat.
Urgensi Pengelolaan Keuangan dan Dukungan Psikologis
Dua insiden ini menjadi pengingat penting bahwa tekanan ekonomi, khususnya utang, dapat berdampak fatal. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan dan tidak segan mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis. Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat meningkatkan edukasi dan memberikan dukungan yang lebih baik bagi masyarakat yang terjebak dalam jeratan utang, sehingga tragedi serupa dapat dicegah di masa depan.
Duka mendalam menyelimuti keluarga korban, namun insiden ini sekaligus menjadi panggilan untuk bertindak, memastikan tidak ada lagi yang harus mengorbankan nyawa karena beban utang yang merundung.
(Arul/Poroslombok)















