Mataram, Poros Lombok – Anggota DPRD Provinsi NTB, Ummi Hj. Lale Yaqutunnafis, menyampaikan kegelisahannya terkait kondisi lingkungan yang saat ini menghadapi ancaman tumpukan limbah dalam kategori sangat mengkhawatirkan.
Cucu pahlawan nasional tersebut menegaskan hal itu saat memberikan keterangan mengenai fenomena gangguan ekologis yang derajatnya setara dengan krisis kemiskinan ekstrem pada Jumat (13/02).
Kondisi tersebut kian memburuk lantaran Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Kebon Kongok di Lombok Barat telah melampaui ambang batas daya tampung maksimal.
”Pemerintah provinsi kini bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memperluas area tanah pembuangan di Kebon Kongok,” jelasnya.
Solusi Pengolahan Jadi Energi
Langkah perluasan lahan tersebut belum menyentuh akar permasalahan utama karena volume sisa konsumsi dari aktivitas masyarakat terus meningkat pesat setiap harinya.
”Lombok tidak boleh keliru dan sebaiknya meniru langkah Jawa Timur atau Kalimantan Timur dalam memperkuat sosialisasi penanganan sampah dari hulu,” ujarnya.
Edukasi pengelolaan harus menyasar seluruh sektor mulai dari lingkungan rumah tangga, pusat perbelanjaan, institusi pendidikan, hingga berbagai kawasan destinasi wisata unggulan di NTB.
Politisi yang akrab disapa Ummi Yaqut ini melihat keberadaan satu unit alat Masero di Lombok Barat belum sanggup mengimbangi beban kiriman muatan dari wilayah sekitarnya.
Penerapan strategi zero waste memerlukan implementasi nyata melalui pembangunan infrastruktur pabrik yang memiliki kemampuan mengubah sampah menjadi sumber energi atau bahan bakar alternatif.
”Harapannya Bapak Gubernur segera duduk bersama seluruh kepala daerah untuk merumuskan tindakan nyata demi mengatasi kondisi sampah ekstrem ini,” tegasnya.
(Poros Lombok)
















