(PorosLombok.com)– Desa Wisata Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, resmi memulai Jeruk Manis Fest III. Perayaan ini dirangkaikan dengan Semarak Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, menghadirkan kemeriahan yang memadukan seni, budaya, dan potensi lokal, Sabtu (9/8).
Festival ini berlangsung selama sembilan hari, mulai 9 hingga 17 Agustus 2025. Dengan mengusung tema “Membangun Persatuan Melalui Warisan Budaya”, panitia ingin mengajak warga dan wisatawan merasakan kehangatan kebersamaan sekaligus menghidupkan kembali tradisi leluhur.
Ritual adat “Kayu Jejeneng” menjadi pembuka rangkaian acara. Prosesi ini telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur sebagai simbol penjaga keselamatan sebelum pesta adat digelar. Bagi masyarakat setempat, “Kayu Jejeneng” adalah warisan sakral yang tak tergantikan.
“Jadi kita ini akan menggelar pesta Hari Kemerdekaan RI. Jadi kita harus lakukan ritual “Kayu Jejeneng” untuk menjaga dari segala macam gangguan, baik makhluk gaib maupun lainnya,” ujar Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin.
Selain ritual adat, festival ini menampilkan teater berjudul Negeri Ini Siapa Pemiliknya?. Pementasan yang digarap oleh seniman lokal ini membawa pesan moral tentang rasa memiliki terhadap tanah air, dibalut alur cerita yang menggugah emosi penonton.
Tak hanya itu, pameran hasil alam dan produk UMKM menjadi daya tarik utama. Berbagai hasil bumi seperti beras organik, umbi-umbian, hingga kerajinan tangan dan kuliner khas dipamerkan untuk memperkenalkan potensi Desa Jeruk Manis kepada khalayak luas.
“Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga memperkenalkan produk pertanian lokal khas Jeruk Manis. Semua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung,” tambah Nasipudin.
Festival ini semakin hidup dengan pawai budaya yang diikuti warga dari berbagai dusun. Mereka menampilkan busana adat, seni tradisional, serta kreativitas lokal yang memukau penonton di sepanjang jalan desa.
Ragam lomba turut memeriahkan acara, mulai dari pidato, cerdas cermat, seni tari, fashion show, hingga permainan tradisional seperti tangkap bebek, panjat pinang, son keraro, balap karung, dan beguling. Semua kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan tanpa memandang usia.
“Lomba-lomba ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarana mempererat hubungan kekeluargaan antarwarga,” kata Nasipudin.
Selain itu, lomba hiburan seperti bola dangdut, lomba kardus, sendok kelereng, enggrang, pukul balon, tarik tambang, lari 100 meter, dan karaoke menambah warna kemeriahan festival. Tawa dan sorak-sorai penonton menciptakan suasana akrab khas desa.
Menurut Nasipudin, Jeruk Manis Fest III menjadi langkah nyata untuk menghidupkan kembali peninggalan budaya yang mulai jarang dilakukan. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan meneruskan tradisi tersebut.
“Harapan saya, tradisi ini tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Justru harus menjadi identitas yang membanggakan bagi Desa Jeruk Manis,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Widayat, M.Pd., menyampaikan bahwa Jeruk Manis Fest III patut diberikan apresiasi, karena event ini menjadi salah satu cara membantu para pelaku UMKM sekitar.
Tak hanya itu, ke depan event ini akan diusulkan masuk kalender event kabupaten agar bisa diintervensi baik dari anggaran maupun dukungan lainnya.
“Semoga Jeruk Manis Fest III tahun ini bisa masuk kalender event, dan semoga event ini berdampak terhadap semua sektor,” pungkasnya.
Pembukaan Jeruk Manis Fest III ditandai dengan pemukulan gong yang dilakukan di tengah suasana meriah. Momen tersebut disaksikan langsung oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang memenuhi area acara.
Acara pembukaan turut dihadiri Sekdis PMD Lombok Timur, Kadisdikbud, Camat Sikur, dan sejumlah pejabat lainnya.
(Arul/PorosLombok)
















